Tuesday, 25 February 2014

Setelah Makan Malam



Saya tak memintanya, ini berlangsung begitu saja. Dia menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang remang. “Kamu suka keremangan?”
Dia tak menjawab, hanya tatapan sejenak dan sesungging senyum kemudian merapikan tempat tidur.
Saya menyusuri keremangan, menghirup udara, mencari-cari adakah aroma orang lain yang tertinggal di kamar itu. Tak ada. Tiap sudut kamarnya bersih, hanya ada sidik jari di kaca lemari, yang kuduga miliknya. Udaranyapun beraroma kas tubuhnya.
“Kamu suka kesendirian ya?”
Dia kembali tersenyum di bibir tempat tidur, menyilangkan kaki kanannya.
Kamarnya diterangi bohlam lima watt yang berasal dari meja kerjanya. Di langit-langit kamarnya menggantung bohlam, yang dalam terkaan saya berwatt lebih besar. Tapi, bohlam itu justru mendapat penerangan dari bohlam meja kerjs yang diarahkan 70 atau 120 derajat. Di dinding tak saya lihat fotonya atau foto keluarganya. Hanya ada sebuah poster perempuan yang tidak saya kenal, sebingkai foto bunga matahari, dua bingkai foto landscape kota-satu kota tua dengan gedung-gedung beraksitektur eropa dan satunya sebuah keramaian perempatan jalan-saya mengiranya itu adalah  kota tempat dia berasal, sebingkai foto pegunungan, dan sebingkai kosong yang membingkai warna krem dinding kamarnya. Dia melawati saya yang masih tegak di ruangan sebesar tujuh kali delapan meter itu. Dia membuka lemari, melepas pakaiannya. “Kita mau ngapain sih?”
Dia menoleh dan mendekatiku, “Aku mau ganti baju yang agak longgaran. Kamu terserah.” Dia tarik jari telunjuknya yang menyentuh jantung saya lantas berbalik ke lemari. Saya tatap punggungnya, dia lebih tinggi beberapa senti ketimbang saya. Rambutnya lurus seleher berbelah tengah. Kulitnya membiaskan cahaya bohlam.
Dia kembali ketempat saya, “Sekarang aku butuh bantuanmu.” Kamu ga jadi ganti baju?
Ini baju yang paling longgar, lagian aku kegerahan. Dia melangkah ke meja kerjanya. Saya mendahuluinya meraih remot AC di dekat laptopnya, “Kan kamu tinggal nyalain.” Kataku. Dia tersenyum, “Tanpa kamu ambilkanpun aku bisa saja menyalakan dari tadi. Aku sedang suka kegerahan dan juga kelonggaran ini. Sekarang aku butuh bantuanmu.” Dia menyalakan laptop.  Terus, saya duduk di mana? Dia tertawa, “Kamu tanya-tanya melulu, improve dong..” Dia tengkurap di karpet. Saya mengulur  kabel charger lalu tengkurap di sampingnya. Nah, gitu dong..

Air mata
Dia terus menulis sedang aku mengikuti apa yang tertulis. Betapa pedih kurasa yang ditulis hingga air mata jatuh di keybord laptopnya. Namun dia terus menulis. Aku menyeka air matanya yang sebenarnya air mataku. Sejak dulu aku meyakini bahwa kesedihan ataupun kebahagian orang-orang di sekitar kita dapat tertansfer tanpa diminta. Tapi aku tak pernah merasakan lelehan air dari mataku sejak kecil. Kata ibuku, aku mengidap kelainan mata yang menyebabkan cairan di mata tidak berproduksi sewajarnya. Mataku tetap basah tapi tak bisa melimpah. Orang normal akan memproduksi air mata bila hatiya sedih atau gembira, aku hanya bisa berkaca-kaca. Sejak penjelasan ibu perihal mataku ini, aku tak pernah menganggapnya sebagai ketidak adilan Tuhan. Aku juga tak pernah berharap memiliki air mata. Ini lebih asyik-lebih seru- karena orang-orang takkan bisa mengukur kedalaman sedihku maupun bahagiaku.
Aku terus mengusap air matanya tanpa bertaya sepatahpun walaupun sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan. Setelah kularutkan semua pertanyaan yang tak kutanyakan itu, rasa kagum menjalar dari jemariku. Persentuhan dengan air matanya seolah menyirami dadaku. Aku seperti mencabut pohon dari jalanan dan menanamnya di pot. Dia kini sedang menyiraminya.

Saya melepas kancing hem dari lobangnya. “Semua juga ga apa-apa” jawabnya sembari terus menatap layar. Layar itu kini menampilkan warna putih. Kami tiba pada halaman kosong.  “Segitu aja?” Tanyaku dari balik punggungnya. Aku sudah memulainya, sekarang giliranmu. Kan tadi aku udah minta bantuanmu. Matanya seolah memohon padaku. “Tapi saya bukan penulis, tak pernah mencoba menulis dan hanya membaca novel atau cerpen atau karya sastra karena ditugaskan guru semasa sekolah dulu. Yang saya tahu hanya struktur bangunan dan hitungannya.” Aku mencoba menolak permintaannya dengan rasio spontan yang mampu kuberikan padanya. Tapi dia terus memintaku menulis cerita seturut jalan ceritaku. “ Bukan berarti kamu tak punya cerita kan.. Sini biar kubuka kaos dalammu, biar intuisimu membuka. Dia meraih bagian bawah kaos putih saya. Saya memang mulai kegerahan sehingga tak menolaknya. Dia menyentuh kepala saya dengan telunjuknya. Membuat lingkaran yang berakhir di kening. Dari sana turun ke hidung, membelah bibir, dagu, leher dan berhenti di degup-degup dada saya. “Bukan berarti kamu tak punya imajinasi kan..” Kemudian telunjuknya turun ke perut, tepat di pusar. “Bukan berarti kamu tak punya fantasi kan..” Kembali telunjuknya menyusuri tubuh saya. Sampai ke punggung, bahu, tengkuk, bagian belakang kepala. Jarinya bertambah satu, menggaris lebih cepat ke kaki.
Dia kembali tengkurap di samping saya.

Api Ternyala
Sejak mataku menyentuh matanya. Sejak nafasku bergaul dengan nafasnya. Sejak gurat-gurat telapak tanganku disusuri garis tangannya. Sejak gendang telingaku diterpa suaranya. Api ternyala. Seperti gunung berapi yang lama tidur membuka kubah pada puncaknya, demikian aku kini.

Sejak awal saya tak berniat memberikannya, ini berlangsung begitu saja. Dia menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang remang. Lalu, yang terjadi kemudian tentu bapak bisa menebak, kan bapak-bapak melihat sendiri kami di lantai. Sejak kapan Anda mengenal beliau? Emmm.. Sejak dia menjabat, kalau ga salah tahun 2009, iya, dia mulai menjabat sejak itu kan, pak? Untuk Anda ketahui di ruangan ini yang boleh bertanya hanya kami; jadi tolong jawab saja pertanyaan kami, sudah berapa kali Anda melakukannya dengan beliau? Aduh, saya ga pernah menghitungnya. Mungkin sudah belasan. Apa yang membuat Anda melakukan tindakan itu, Anda tentu tahu beliau sudah berkeluarga dan Anda juga sudah berkeluarga? Awalnya, saya mengira ini hanya kesenangan sesaat, hingga kami melakukannya untuk yang kedua kali. Ini menjadi berbeda sebab dia tidak sekedar menginginkan gairah kami terpuaskan. Kami tak pernah tergesa melakukannya. Kami juga sering tidak mengakhirinya dengan hal yang seperti Anda kirakan. Saya merasa dia melengkapi saya dan dia juga bilang begitu. Kami menyadari telah sama-sama berkeluarga tapi kami sepakat menamai hubungan kami keluarga yang lain. Jadi, ini bukan yang pertama? Bukan.
Alasan apa yang membuat Anda mendatangi rumahnya; Anda tentu tahu beliau sedang menangani tender proyek pembangunan yang perusahaan Anda sedang garap? Iya, saya diundang makan malam. Makan malam? Berapa orang yang menghadiri? Tak banyak, dua orang dari pihaknya dan dua orang bawahan saya. Lalu setelah acara makan apakah Anda memberikan sesuatu kepada beliau. Iya. Apakah yang Anda perbuat di lantai itu bagian dari pemberian untuk kelancaran tender Anda? Sejak awal saya tak berniat memberikannya, ini berlangsung begitu saja. Dia menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang remang.
Cukup, nanti kami lanjutkan lagi. Silahkan Anda makan malam dulu. Saya meletakkan kardus nasi di atas meja yang diberikan salah seorang penyidik.  Saya begitu lelah bukan oleh pertanyaan yang mereka lontarkan melainkan karena harus menceritakan kisah saya . badan saya lemas dan panas, AC tak mampu menghilangkan kegerahan yang melanda badan saya.









No comments: