Saya tak memintanya, ini berlangsung begitu saja. Dia
menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang remang. “Kamu suka
keremangan?”
Dia tak menjawab, hanya tatapan sejenak dan sesungging
senyum kemudian merapikan tempat tidur.
Saya menyusuri keremangan, menghirup udara, mencari-cari adakah aroma orang lain yang
tertinggal di kamar itu. Tak
ada. Tiap sudut kamarnya bersih, hanya ada sidik jari di kaca lemari, yang kuduga miliknya.
Udaranyapun beraroma kas tubuhnya.
“Kamu suka kesendirian ya?”
Dia kembali tersenyum di bibir tempat tidur, menyilangkan
kaki kanannya.
Kamarnya diterangi bohlam lima watt yang berasal dari meja
kerjanya. Di langit-langit kamarnya menggantung bohlam, yang dalam terkaan saya
berwatt lebih besar. Tapi, bohlam itu justru mendapat penerangan dari bohlam
meja kerjs yang diarahkan 70 atau 120 derajat. Di dinding tak saya lihat
fotonya atau foto keluarganya. Hanya ada sebuah poster perempuan yang tidak
saya kenal, sebingkai foto bunga matahari, dua bingkai foto landscape kota-satu
kota tua dengan gedung-gedung beraksitektur eropa dan satunya sebuah keramaian
perempatan jalan-saya
mengiranya itu adalah kota tempat dia
berasal, sebingkai foto pegunungan, dan sebingkai kosong yang membingkai warna
krem dinding kamarnya. Dia melawati saya yang masih tegak di ruangan sebesar tujuh kali delapan meter itu. Dia
membuka lemari, melepas pakaiannya. “Kita mau ngapain sih?”
Dia menoleh dan mendekatiku, “Aku mau ganti baju yang agak
longgaran. Kamu terserah.” Dia tarik jari telunjuknya yang menyentuh jantung
saya lantas berbalik ke lemari. Saya tatap punggungnya, dia lebih tinggi
beberapa senti ketimbang saya. Rambutnya lurus seleher berbelah tengah.
Kulitnya membiaskan cahaya bohlam.
Dia kembali ketempat saya, “Sekarang aku butuh bantuanmu.”
Kamu ga jadi ganti baju?
Ini baju yang paling longgar, lagian aku kegerahan. Dia
melangkah ke meja kerjanya. Saya mendahuluinya meraih remot AC di dekat
laptopnya, “Kan kamu tinggal
nyalain.” Kataku. Dia
tersenyum, “Tanpa kamu ambilkanpun aku bisa saja menyalakan dari tadi. Aku sedang
suka kegerahan dan juga kelonggaran ini. Sekarang aku butuh bantuanmu.” Dia
menyalakan laptop. Terus, saya duduk di
mana? Dia tertawa, “Kamu tanya-tanya melulu, improve dong..” Dia tengkurap di
karpet. Saya mengulur kabel charger lalu
tengkurap di sampingnya. Nah, gitu dong..
Air mata
Dia terus menulis
sedang aku mengikuti apa yang tertulis. Betapa pedih kurasa yang ditulis
hingga air mata jatuh di keybord laptopnya. Namun dia terus menulis. Aku
menyeka air matanya yang sebenarnya air mataku. Sejak
dulu aku meyakini bahwa kesedihan ataupun kebahagian orang-orang di sekitar
kita dapat tertansfer tanpa diminta.
Tapi aku
tak pernah merasakan lelehan air dari mataku sejak kecil. Kata ibuku, aku mengidap
kelainan mata yang menyebabkan cairan di mata tidak berproduksi sewajarnya.
Mataku tetap basah tapi tak bisa melimpah. Orang normal akan memproduksi air
mata bila hatiya sedih atau gembira, aku hanya bisa berkaca-kaca. Sejak
penjelasan ibu perihal mataku ini, aku tak pernah menganggapnya sebagai ketidak
adilan Tuhan. Aku juga tak pernah berharap memiliki air mata. Ini lebih
asyik-lebih seru- karena orang-orang takkan bisa mengukur kedalaman sedihku
maupun bahagiaku.
Aku terus mengusap air matanya tanpa bertaya sepatahpun walaupun
sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan. Setelah kularutkan semua pertanyaan
yang tak kutanyakan itu, rasa kagum menjalar dari jemariku. Persentuhan dengan
air matanya seolah menyirami dadaku. Aku seperti mencabut pohon dari jalanan
dan menanamnya di pot. Dia kini sedang menyiraminya.
Saya melepas kancing hem dari lobangnya. “Semua juga ga
apa-apa” jawabnya sembari
terus menatap layar. Layar itu kini menampilkan warna putih. Kami tiba pada
halaman kosong. “Segitu aja?” Tanyaku dari balik punggungnya. “Aku sudah memulainya, sekarang
giliranmu. Kan tadi aku udah minta bantuanmu.” Matanya
seolah memohon padaku. “Tapi saya bukan penulis, tak pernah mencoba
menulis dan hanya membaca novel atau cerpen atau karya sastra karena ditugaskan
guru semasa sekolah dulu. Yang saya
tahu hanya struktur bangunan dan hitungannya.” Aku mencoba menolak permintaannya dengan rasio spontan yang mampu
kuberikan padanya. Tapi dia terus memintaku menulis cerita seturut jalan
ceritaku. “ Bukan berarti kamu tak punya cerita kan.. Sini biar kubuka kaos dalammu, biar intuisimu membuka.” Dia meraih bagian bawah kaos putih saya.
Saya memang mulai kegerahan sehingga tak menolaknya. Dia menyentuh kepala saya
dengan telunjuknya. Membuat lingkaran yang berakhir di kening. Dari sana turun
ke hidung, membelah bibir, dagu, leher dan berhenti di degup-degup dada saya.
“Bukan berarti kamu tak punya imajinasi kan..” Kemudian telunjuknya turun ke
perut, tepat di pusar. “Bukan berarti kamu tak punya fantasi kan..” Kembali telunjuknya menyusuri tubuh
saya. Sampai ke punggung, bahu, tengkuk, bagian belakang kepala. Jarinya bertambah satu, menggaris lebih
cepat ke kaki.
Dia kembali tengkurap di samping saya.
Api Ternyala
Sejak mataku menyentuh matanya. Sejak nafasku bergaul dengan
nafasnya. Sejak gurat-gurat telapak tanganku disusuri garis tangannya. Sejak
gendang telingaku diterpa suaranya. Api ternyala. Seperti gunung berapi yang lama tidur membuka
kubah pada puncaknya, demikian aku kini.
Sejak awal saya tak berniat memberikannya, ini berlangsung
begitu saja. Dia menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang
remang. Lalu, yang terjadi kemudian tentu bapak bisa menebak, kan bapak-bapak
melihat sendiri kami di lantai. Sejak kapan Anda mengenal beliau? Emmm.. Sejak
dia menjabat, kalau ga salah tahun 2009, iya, dia mulai menjabat sejak itu kan,
pak? Untuk Anda ketahui di ruangan ini yang boleh bertanya hanya kami; jadi
tolong jawab saja pertanyaan kami, sudah berapa kali Anda melakukannya dengan
beliau? Aduh, saya ga pernah menghitungnya. Mungkin sudah belasan. Apa yang
membuat Anda melakukan tindakan itu, Anda tentu tahu beliau sudah berkeluarga
dan Anda juga sudah berkeluarga? Awalnya, saya mengira ini hanya kesenangan
sesaat, hingga kami melakukannya untuk yang kedua kali. Ini menjadi berbeda
sebab dia tidak sekedar menginginkan gairah kami terpuaskan. Kami tak pernah
tergesa melakukannya. Kami juga sering tidak mengakhirinya dengan hal yang seperti Anda kirakan.
Saya merasa dia melengkapi saya dan dia juga bilang begitu. Kami menyadari
telah sama-sama berkeluarga tapi kami sepakat menamai hubungan kami keluarga
yang lain. Jadi, ini bukan yang pertama? Bukan.
Alasan apa yang membuat Anda mendatangi rumahnya; Anda tentu
tahu beliau sedang menangani tender proyek pembangunan yang perusahaan Anda
sedang garap? Iya, saya diundang makan malam. Makan malam? Berapa orang yang menghadiri?
Tak banyak, dua orang dari pihaknya dan dua orang bawahan saya. Lalu setelah
acara makan apakah Anda memberikan sesuatu kepada beliau. Iya. Apakah yang Anda
perbuat di lantai itu bagian dari pemberian untuk kelancaran tender Anda? Sejak
awal saya tak berniat memberikannya, ini berlangsung begitu saja. Dia
menggandeng tangan saya dari ruang tamu menuju kamarnya yang remang.
Cukup, nanti kami lanjutkan lagi. Silahkan Anda makan malam
dulu. Saya meletakkan kardus nasi di atas meja yang diberikan salah seorang
penyidik. Saya begitu lelah bukan oleh
pertanyaan yang mereka lontarkan melainkan karena harus menceritakan kisah saya
. badan saya lemas dan panas, AC tak mampu menghilangkan kegerahan yang melanda
badan saya.
No comments:
Post a Comment