Hujan,
kau teman masa kecilku yang tak terlupa. Aku ingat selalu ketika kau
datang menghampiriku. "Horeeee hujaaaaann!" Demikianlah aku bersegera
melepas baju dan celana. Apalagi kalau pakai celana kolor, dulu
disebut celana hawai, sssrrrrttt sekejab telanjanglah aku .Dulu belum musim celana dalam sehingga bisa cepat bergumul denganmu. Aku menari. Menangkupkan tangan menyaksikan kau berkecipak di telapak tanganku. Menengadah sambil membuka mulut, membiarkan kau menjejak mataku, wajahku, dan membiarkan kau menyatu -masuk ke mulutku.
Dalam ketelanjangan aku tak peduli pada apa atau siapa yang melintas asal bersatu denganmu. Aku juga ingat, kita selalu menghindari bapak dan mamakku kalau bertemu sebab bila ketahuan mereka selalu marah, "Jangan lagi main hujan! Bikin sakit kau tahu itu!" Amarahan mereka juga sering disertai cubitan atau pukulan ke kakiku. Tapi apalah arti rasa sakit itu dibanding aku bersamamu.
Sekarang kita sudah jarang bertemu bukan karena kau yang tak hadir melainkan aku yang tak mejumpaimu. Kau selalu datang sama persis dengan kedatanganmu ketika pertama kali kugumuli. Aku kini tak berani menyambutmu dengan bersegera melepas baju dan celana, kata 'malu' telah mengungkungku. Kau memang tidak pernah berubah, aku-akulah yang berubah dengan segala tatanan kehidupan.
Hujan, aku tak bisa lagi bersegera telanjang menyambut kedatanganmu. Aku bisa membayangkan reaksi orang-orang yang melihat jika aku bergumul denganmu seperti cara kita dulu. Entahlah, semakin dewasa terlalu banyak yang mesti dijaga. Selain itu juga kedewasaan memakan waktu lebih banyak untuk melepas yang melekat di tubuh sekedar menari telanjang bersamamu. Bagiku, bergumul denganmu tanpa telanjang sungguh tidak asyik.
Aku memang sering menghindarimu; bukan karena tak ingin bersama, aku sungguh ingin bertelanjang menari bersamamu dengan segala cap kedewasaan ini. Memang sekarang tak ada lagi yang memarahiku, mencubit, maupun memukul kakiku. Hanya saja, bagi orang dewasa ketelanjangan sungguh memalukan sehingga akupun ikut tersandera.
Percayalah, telanjang atau tidak aku tetap memiliki perasaan yang sama. Ya, mungkin hanya perasaanlah yang tak mengenal kedewasaan. Itulah mungkin sebabnya perasaan berada di dalam hati. Perasaan tidak berubah bagi yang setia. Yang dilakukan kedewasaan hanya membatasi gerak fisik dan gerak persepsi yang diterima indera.
Begitu banyak kisah yang sudah kita buat yang terus kuingat.Tapi hujan, hanya wajahmu yang tak bisa kubayangkan. Aku tak punya gambaran jelas tentang wajahmu. Mungkin kedewasaan juga yng membuat aku penasaran dengan wajahmu.
Maka kini ijinkanlah aku menjumpaimu dengan segala yang kupakai. Dan tunjukanlah wajahmu, wajah hujan teman masa kecilku.
Dalam ketelanjangan aku tak peduli pada apa atau siapa yang melintas asal bersatu denganmu. Aku juga ingat, kita selalu menghindari bapak dan mamakku kalau bertemu sebab bila ketahuan mereka selalu marah, "Jangan lagi main hujan! Bikin sakit kau tahu itu!" Amarahan mereka juga sering disertai cubitan atau pukulan ke kakiku. Tapi apalah arti rasa sakit itu dibanding aku bersamamu.
Sekarang kita sudah jarang bertemu bukan karena kau yang tak hadir melainkan aku yang tak mejumpaimu. Kau selalu datang sama persis dengan kedatanganmu ketika pertama kali kugumuli. Aku kini tak berani menyambutmu dengan bersegera melepas baju dan celana, kata 'malu' telah mengungkungku. Kau memang tidak pernah berubah, aku-akulah yang berubah dengan segala tatanan kehidupan.
Hujan, aku tak bisa lagi bersegera telanjang menyambut kedatanganmu. Aku bisa membayangkan reaksi orang-orang yang melihat jika aku bergumul denganmu seperti cara kita dulu. Entahlah, semakin dewasa terlalu banyak yang mesti dijaga. Selain itu juga kedewasaan memakan waktu lebih banyak untuk melepas yang melekat di tubuh sekedar menari telanjang bersamamu. Bagiku, bergumul denganmu tanpa telanjang sungguh tidak asyik.
Aku memang sering menghindarimu; bukan karena tak ingin bersama, aku sungguh ingin bertelanjang menari bersamamu dengan segala cap kedewasaan ini. Memang sekarang tak ada lagi yang memarahiku, mencubit, maupun memukul kakiku. Hanya saja, bagi orang dewasa ketelanjangan sungguh memalukan sehingga akupun ikut tersandera.
Percayalah, telanjang atau tidak aku tetap memiliki perasaan yang sama. Ya, mungkin hanya perasaanlah yang tak mengenal kedewasaan. Itulah mungkin sebabnya perasaan berada di dalam hati. Perasaan tidak berubah bagi yang setia. Yang dilakukan kedewasaan hanya membatasi gerak fisik dan gerak persepsi yang diterima indera.
Begitu banyak kisah yang sudah kita buat yang terus kuingat.Tapi hujan, hanya wajahmu yang tak bisa kubayangkan. Aku tak punya gambaran jelas tentang wajahmu. Mungkin kedewasaan juga yng membuat aku penasaran dengan wajahmu.
Maka kini ijinkanlah aku menjumpaimu dengan segala yang kupakai. Dan tunjukanlah wajahmu, wajah hujan teman masa kecilku.
No comments:
Post a Comment