Mengenai hari ini yang telah separuh terjalani, tanggal merah peringatan hari kenaikan Isa Almasih. Berlatar belakang kenaikan Isa, pikiranku terus berkutat perihal meninggalkan dan ditinggalkan, sejak pagi tadi.
Menimbang, mengingat dan akhirnya aku berputusan (mengafirmasi putusan yang pernah kuambil, sebab sudah lama aku memikirkan hal ini) kalau seseorang yang meninggalkan memiliki kuasa lebih dibandingkan yang ditinggalkan, kaitannya dengan perjumpaan.
Orang yang meninggalkan adalah pemegang waktu perjumpaan berikutnya. Sederhananya begini; anggaplah aku meninggalkan seseorang yang telah lama bersama-sama, taruhlah sebuah persahabatan. Tapi bukan dalam artian memutuskan tali persahabatan loh..Tentunya sahabat yang kutinggalkan itu nggak bakalan tahu kapan aku akan datang lagi (atau kami akan berjumpa kembali). Akulah pemegang waktu, kapan akan menjumpai sahabatku itu.
Dan, sahabatku menjadi orang yang menantikan (aku). Serasa egois memang, tapi itulah hak istimewa orang yang meninggalkan. (belum selesai)
(ok aku lanjutkan)
Otoritas waktu menjadi milikku karena dilihat dari bentukan kata, 'meninggalkan' menunjukkan dominasi aktif subyek sedangkan 'ditinggalkan' menyatakan kepasifan objek atau bisa juga subyek (bisa hobi, kampung halaman, komunitas, pekerjaan, dll). Namun, perlu digaris bawahi bahwa itu semua hanya berlaku bila dalam perpisahan diakhiri dengan kata, "Sampai jumpa lagi." Atau, "Aku akan kembali padamu."
Menimbang, mengingat dan akhirnya aku berputusan (mengafirmasi putusan yang pernah kuambil, sebab sudah lama aku memikirkan hal ini) kalau seseorang yang meninggalkan memiliki kuasa lebih dibandingkan yang ditinggalkan, kaitannya dengan perjumpaan.
Orang yang meninggalkan adalah pemegang waktu perjumpaan berikutnya. Sederhananya begini; anggaplah aku meninggalkan seseorang yang telah lama bersama-sama, taruhlah sebuah persahabatan. Tapi bukan dalam artian memutuskan tali persahabatan loh..Tentunya sahabat yang kutinggalkan itu nggak bakalan tahu kapan aku akan datang lagi (atau kami akan berjumpa kembali). Akulah pemegang waktu, kapan akan menjumpai sahabatku itu.
Dan, sahabatku menjadi orang yang menantikan (aku). Serasa egois memang, tapi itulah hak istimewa orang yang meninggalkan. (belum selesai)
(ok aku lanjutkan)
Otoritas waktu menjadi milikku karena dilihat dari bentukan kata, 'meninggalkan' menunjukkan dominasi aktif subyek sedangkan 'ditinggalkan' menyatakan kepasifan objek atau bisa juga subyek (bisa hobi, kampung halaman, komunitas, pekerjaan, dll). Namun, perlu digaris bawahi bahwa itu semua hanya berlaku bila dalam perpisahan diakhiri dengan kata, "Sampai jumpa lagi." Atau, "Aku akan kembali padamu."
No comments:
Post a Comment