Biarkan semua berlalu. Pergi. Sebab nanti tak
ada yang
tinggal tetap,melekat. Kulit pun tidak. Tulang-tulang
akan menyatu dengan tanah. Dan jiwa-jiwa akan terbang
entah kemana. Mulai detik ini. Pada helaan nafas
pertama kau bangun pagi. Tersadar dari tidur malam
yang gelap, meskipun dari sanalah tercipta terang,
yang belum pernah seterang matahari datang. Sehingga
matamu yang bulat dunia terpicing lalu perlahan-lahan
terkatup. Menyerah pada tanah. Di dalam perut bumi ia
pun masih congkak. Sementara cacing yang dalam
detik-detik hari selalu sembunyi dari manusia. Di
tanah. Di rawa. Di air. Pada ladang. Pada sawah. Pada
hutan. Pada lautan. Menulusup ke dalam tubuhmu,
menghisap semua daging tersisa bagai perjamuan
terakhir. Bagai pesta kelahiran setelah mengandung.
Menyakitkan. Ya, sangat menyakitkan kesadaran terhadap
satu hal: kita akan segera kalah. Manusia akan segera
berlalu, melalui penghisapan cacing-cacing jahanam.
Satu hal harus kau lakukan. Nyanyikan sebuah kidung
bagi keutuhan tubuh. Bagi diri yang lepas dari
panggilan ruang penjagalan. Kemudian turunkan kakimu
dari pembaringan dan rasakan telapak-telapak kakimu
sedang mengukur jalan yang akan ditempuh. Tiap
sentinya tercatat dalam kepalamu. Bagaikan keranjang
sampah semua tertumpuk. Sementara angin dari luar
jendela memperdengarkan deru mobil pengangkut sampah
berwarna kuning. Pekerjanya melemparkan sekeranjang ingatan pada
sebuah peristiwa tua melayang-layang di udara, lepas
dari dahan. Dari atas turun ke bumi hanya untuk
mencium tanah. Sampah yang menumpuk di kepalamu itu
selalu saja terlambat kau sisihkan agar si tukang
sampah dapat bersegera mengambilnya tanpa harus
menunggu kau terjaga. Tersadar dari tidur lelapmu. Apa
boleh buat segalanya telah terjadi. Tak perlu
menangis. Tak perlu tertawa. Jangan jadi gila lantas
bunuh diri, karena kita tak pernah tahu apa yang akan
berlangsung setelah bunuh diri. Jangan pernah
memaksakan segala sesuatunya menurut kehendakmu, sebab
kehendak yang tak terjamah saja kau tidak paham dan sering kali
menyakitkan. Apalagi kehendak yang dipaksakan pasti
super menyakitkan. Dengan menurut sesuai jalur
tersedia, setidaknya, kita sudah melepaskan salah satu
tugas hidup. Tanggung jawab. Kematian yang dengan
wajar bukan lagi tanggung jawab kita. Semuanya telah
diatur oleh yang tak terlihat.
Tapi tak mengapa, untuk segala keterlambatanmu selalu ada pengampunan.
Betapa lega rasanya tiap hari diampununi sebagai
manusia bebas, bukan? Tak perlu menghitung hari-hari
di balik jeruji, menunggu sipir penjara membacakan
berkas yang singkatnya berisi, ”....karena hari ini
adalah hari kemerdekaan negeri kita, maka kau-kau-kau,
kalian dibebaskan!” Berita itu disambut penghuninya
dengan sorak-sorai, tangisan, pelukan, dan dendam yang
keluar dari sangkarnya. Kita bebas,-merdeka! Sungguh
menyayat hati ketika pekik merdeka itu berdentum pada
gendang telingaku. Untuk apa? Aku lemas bersandar pada
kursi rotan. Bau hutan masih lekat padanya. Bau yang
sangat kurindukan. Natural. Segar. Bersih. Murni. Ada
di sini-sudut kamarku. Pikiranku melesat.
Tumpukan-tumpukan sampah itu melesat ditiup badai
kemerdekaan. Suatu masa rimba raya. Disanalah aku
bertemu seorang gadis pujaan. Tangan kananku
menggenggam gadis pujaanku, tangan kiriku dengan
genggaman erat mengacungkan rahang singa kelangit.
Inilah ikrar kami,” Sampai darah penghabisan aku akan
menjaganya. Hanya kematianlah yang boleh memisahkan
aku dari dirinya.” Gadis itu menjawab dengan tidak
kalah lantang, sembari tangan kirinya menggenggam kain
warna darah dan daging yang meliliti pinggulnya,
”Akupun akan setia mengikuti dia.” Aghk... dadaku
makin sesak, ”Selalu begini bila bangun pagi”.
Dengusku pada diriku sendiri. Haus mencekik
kerongkonganku. Aku mengerang meminta air...air... tak
seorangpun di rumah ini medengarkanku, semuanya pergi
dengan meninggalkan satu pesan kepadaku ” Kau sudah
gila!” Di layar televisi, persis di depan mata
tempatku bersimpuh, kulihat orang-orang berteriak
air..air..air...Di mana air?
Aku tak tahan melihat manusia-manusia televisi itu.
Kuganti channel. Segerombolan manusia berseragam
mengangkat tangan kanannya kearah langit sembari
menyanyikan sebuah pujian, tapi sebenarnya mirip
requim. Sama sekali tak bersemangat meskipun telah
diangkat dengan beat mars. Sungguh membingungkan, kok
bisa lagu berjiwa tak jelas itu menjadi lagu istimewa?
Pantas saja! Kemudian perlahan-lahan angle kamera
mengarah pada kain berwarna darah dan daging. ”Dua
warna!” pekikku. Aku ingat pada sebuah pesan kitab tua
dari hutan rimba raya, kira-kira begini yang terngiang
di telingaku secara putus-putus, ”Hendaklah kini
kalian tidak lagi dua, melainkan satu menjadi pasangan
yang sepadan saling tolong menolong.” Atas peristiwa
itu mereka beroleh hadiah sebuah taman yang indah dan
subur. Masuklah mereka ke taman setelah seorang
protokol membacakan urutan-urutan peristiwa. Mereka
mengerjakan taman itu dengan saling bahu-membahu.
”Kini aku tahu makna dua warna yang berkibar di terpa
angin bagaikan puteri keraton yang kehilangan
aktivitas pagi sedang menaiki kereta kencana menuju
pemakaman anaknya yang baru saja mati terserang
penyakit tak bernama.” Tidak! Aku ganti lagi. Sama.
Lagi sama. Sama lagi. Ah... sudahlah! tak perlu
mencari kesenangan yang tak ada. Aku mengalah pada
televisi. Untuk apa selalu memegang kata hati kalau
tidak bisa menikmati hidup. Aku diam tak lagi
mengganti-ganti channel. Kunikmati saja siaran stasiun
televisi sembarangan dengan acara sembarangan. Sebab
kenginan menonton ini tujuannya tak terpenuhi. Hanya
orang gila yang menonton sekedar menonton. Dan aku tak
ingin memiliki label gila. Aku masih waras. Aku masih
sadar. Aku masih berpikir. Meskipun semuanya itu
selalu aku gencet. Terpaksa aku gencet, karena aku
trauma pada peristiwa di bukit itu, kebenaran telah
tercurah melalui darah dan daging.
tinggal tetap,melekat. Kulit pun tidak. Tulang-tulang
akan menyatu dengan tanah. Dan jiwa-jiwa akan terbang
entah kemana. Mulai detik ini. Pada helaan nafas
pertama kau bangun pagi. Tersadar dari tidur malam
yang gelap, meskipun dari sanalah tercipta terang,
yang belum pernah seterang matahari datang. Sehingga
matamu yang bulat dunia terpicing lalu perlahan-lahan
terkatup. Menyerah pada tanah. Di dalam perut bumi ia
pun masih congkak. Sementara cacing yang dalam
detik-detik hari selalu sembunyi dari manusia. Di
tanah. Di rawa. Di air. Pada ladang. Pada sawah. Pada
hutan. Pada lautan. Menulusup ke dalam tubuhmu,
menghisap semua daging tersisa bagai perjamuan
terakhir. Bagai pesta kelahiran setelah mengandung.
Menyakitkan. Ya, sangat menyakitkan kesadaran terhadap
satu hal: kita akan segera kalah. Manusia akan segera
berlalu, melalui penghisapan cacing-cacing jahanam.
Satu hal harus kau lakukan. Nyanyikan sebuah kidung
bagi keutuhan tubuh. Bagi diri yang lepas dari
panggilan ruang penjagalan. Kemudian turunkan kakimu
dari pembaringan dan rasakan telapak-telapak kakimu
sedang mengukur jalan yang akan ditempuh. Tiap
sentinya tercatat dalam kepalamu. Bagaikan keranjang
sampah semua tertumpuk. Sementara angin dari luar
jendela memperdengarkan deru mobil pengangkut sampah
berwarna kuning. Pekerjanya melemparkan sekeranjang ingatan pada
sebuah peristiwa tua melayang-layang di udara, lepas
dari dahan. Dari atas turun ke bumi hanya untuk
mencium tanah. Sampah yang menumpuk di kepalamu itu
selalu saja terlambat kau sisihkan agar si tukang
sampah dapat bersegera mengambilnya tanpa harus
menunggu kau terjaga. Tersadar dari tidur lelapmu. Apa
boleh buat segalanya telah terjadi. Tak perlu
menangis. Tak perlu tertawa. Jangan jadi gila lantas
bunuh diri, karena kita tak pernah tahu apa yang akan
berlangsung setelah bunuh diri. Jangan pernah
memaksakan segala sesuatunya menurut kehendakmu, sebab
kehendak yang tak terjamah saja kau tidak paham dan sering kali
menyakitkan. Apalagi kehendak yang dipaksakan pasti
super menyakitkan. Dengan menurut sesuai jalur
tersedia, setidaknya, kita sudah melepaskan salah satu
tugas hidup. Tanggung jawab. Kematian yang dengan
wajar bukan lagi tanggung jawab kita. Semuanya telah
diatur oleh yang tak terlihat.
Tapi tak mengapa, untuk segala keterlambatanmu selalu ada pengampunan.
Betapa lega rasanya tiap hari diampununi sebagai
manusia bebas, bukan? Tak perlu menghitung hari-hari
di balik jeruji, menunggu sipir penjara membacakan
berkas yang singkatnya berisi, ”....karena hari ini
adalah hari kemerdekaan negeri kita, maka kau-kau-kau,
kalian dibebaskan!” Berita itu disambut penghuninya
dengan sorak-sorai, tangisan, pelukan, dan dendam yang
keluar dari sangkarnya. Kita bebas,-merdeka! Sungguh
menyayat hati ketika pekik merdeka itu berdentum pada
gendang telingaku. Untuk apa? Aku lemas bersandar pada
kursi rotan. Bau hutan masih lekat padanya. Bau yang
sangat kurindukan. Natural. Segar. Bersih. Murni. Ada
di sini-sudut kamarku. Pikiranku melesat.
Tumpukan-tumpukan sampah itu melesat ditiup badai
kemerdekaan. Suatu masa rimba raya. Disanalah aku
bertemu seorang gadis pujaan. Tangan kananku
menggenggam gadis pujaanku, tangan kiriku dengan
genggaman erat mengacungkan rahang singa kelangit.
Inilah ikrar kami,” Sampai darah penghabisan aku akan
menjaganya. Hanya kematianlah yang boleh memisahkan
aku dari dirinya.” Gadis itu menjawab dengan tidak
kalah lantang, sembari tangan kirinya menggenggam kain
warna darah dan daging yang meliliti pinggulnya,
”Akupun akan setia mengikuti dia.” Aghk... dadaku
makin sesak, ”Selalu begini bila bangun pagi”.
Dengusku pada diriku sendiri. Haus mencekik
kerongkonganku. Aku mengerang meminta air...air... tak
seorangpun di rumah ini medengarkanku, semuanya pergi
dengan meninggalkan satu pesan kepadaku ” Kau sudah
gila!” Di layar televisi, persis di depan mata
tempatku bersimpuh, kulihat orang-orang berteriak
air..air..air...Di mana air?
Aku tak tahan melihat manusia-manusia televisi itu.
Kuganti channel. Segerombolan manusia berseragam
mengangkat tangan kanannya kearah langit sembari
menyanyikan sebuah pujian, tapi sebenarnya mirip
requim. Sama sekali tak bersemangat meskipun telah
diangkat dengan beat mars. Sungguh membingungkan, kok
bisa lagu berjiwa tak jelas itu menjadi lagu istimewa?
Pantas saja! Kemudian perlahan-lahan angle kamera
mengarah pada kain berwarna darah dan daging. ”Dua
warna!” pekikku. Aku ingat pada sebuah pesan kitab tua
dari hutan rimba raya, kira-kira begini yang terngiang
di telingaku secara putus-putus, ”Hendaklah kini
kalian tidak lagi dua, melainkan satu menjadi pasangan
yang sepadan saling tolong menolong.” Atas peristiwa
itu mereka beroleh hadiah sebuah taman yang indah dan
subur. Masuklah mereka ke taman setelah seorang
protokol membacakan urutan-urutan peristiwa. Mereka
mengerjakan taman itu dengan saling bahu-membahu.
”Kini aku tahu makna dua warna yang berkibar di terpa
angin bagaikan puteri keraton yang kehilangan
aktivitas pagi sedang menaiki kereta kencana menuju
pemakaman anaknya yang baru saja mati terserang
penyakit tak bernama.” Tidak! Aku ganti lagi. Sama.
Lagi sama. Sama lagi. Ah... sudahlah! tak perlu
mencari kesenangan yang tak ada. Aku mengalah pada
televisi. Untuk apa selalu memegang kata hati kalau
tidak bisa menikmati hidup. Aku diam tak lagi
mengganti-ganti channel. Kunikmati saja siaran stasiun
televisi sembarangan dengan acara sembarangan. Sebab
kenginan menonton ini tujuannya tak terpenuhi. Hanya
orang gila yang menonton sekedar menonton. Dan aku tak
ingin memiliki label gila. Aku masih waras. Aku masih
sadar. Aku masih berpikir. Meskipun semuanya itu
selalu aku gencet. Terpaksa aku gencet, karena aku
trauma pada peristiwa di bukit itu, kebenaran telah
tercurah melalui darah dan daging.
Kumatikan
televisi kemudian berdiam diri. Sikap diam adalah
sikap. Tak melawan bukan berarti pengecut. Sebab semua
ini tak perlu dilawan. Persis dengan mengahadapi
kehidupan. Tak perlu melawan. Logikanya begini. Waktu
aku menginjak usia praremaja, pernah berkelahi dengan
seorang teman sekelas, itupun gara-gara diadu domba
oleh teman-teman sekelas yang lain. Berdua kami
dimasukkan dalam sebuah ruangan yang biasanya dipakai
mengganti kostum saat jam pelajaran olah raga. ”ayo.”
kata temanku, eh..bukan teman, di ruang sempit ini dia
musuhku walaupun aku tak pernah beranggapan demikian. Aku hanya mempertahankan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Aku mempertahankan harga diri agar tak diinjak-injak oleh kata ‘pengecut’. Kami berdua berada dalam ruang itu. Muka
musuhku ini cengengesan, sebenarnya aku ingin sekali
tertawa melihat mukanya. Muka yang memang
sehari-harinya begitu. Aku hanya diam, lebih baik
menunggu daripada memulai, hal itu aku pilih, sebab
apabila terjadi sesuatu yang kelewat pada diriku atau
musuhku, nilai kesalahanku telah minus satu. Karena
aku tidak memulainya duluan. ”Ah...ini bakalan nggak
jadi berantem. Habis muka musuhku ini lebih pantas
berdiri dipanggung lawak.” Gumamku dalam hati. Mukaku
tegang, belum pernah aku berantem seperti ayam begini.
Teriakan teman-teman yang lain dari lubang angin
ternyata telah membakar hati musuh dihadapanku yang
sejak tiga menit lalu terpaku, mengangkat kedua
kepalan ke dada, sambil cengengesan. Mukanya kini
garang. Gigi seri bagian atas menggigit bagian bawah
bibirnya sendiri. Secepat kilat kami sudah saling
pukul. Saling tendang. Kami membabi buta tanpa suara.
Kami berkelahi seperti ayam jago. Musuhku yang lebih tinggi pun makin gencar melawan. Dia telah merasakan kakiku menghinggapi perutnya.
Musuhku lantas beringas mengincar kepalaku. Dia
berhasil membuat bagian atas gigi seriku menjadi tak
rata, bahkan agak goyang.
Hehehe itu dulu...Melawan hanya membuahkan kesakitan
dan kesakitan akan melahirkan perlawanan, begitu
seterusnya. Lebih baik diam dan berkawan dengan rasa
sakit akibat gencetan-gencetan. Seperti yang kulakukan
saat ini: dengan langkah tenang aku mengarahkan tujuan
ke jendela ruang kamarku yang berukuran dua meter kali
tiga meter. Kurasakan siang itu semilir angin menyibak
kepenatanku. Aku ringan. Hati ringan. Terbang.
Melayang. Di jalan menuruti hatiku, ”Telah aku
kalahkan kemerdekaan!!!” Orang-orang mengarahkan mata
dunianya kepadaku. Mobil diam. Motor diam. Pesawat
diam. Kereta api diam Polisi diam. Pencuri diam.
Gelandangan diam. Laki-laki diam. Perempuan diam.
Banci diam. Tukang parkir diam. Guru diam. Murid diam.
Tentara diam. Aktivis diam. Dokter diam. Pasien diam. Menteri diam. Presiden diam. Mayat-mayat diam. Semuanya diam. Aku sungguh heran
dengan kelengangan jalan ini. Kuturunkan kedua lengan
dari bentuk huruf ’V’ ke arah langit, jalan
meninggalkan tempat itu. ”Hari yang aneh. Benar-benar
siang yang kosong.” hahaha..... Di mana aku..
sikap. Tak melawan bukan berarti pengecut. Sebab semua
ini tak perlu dilawan. Persis dengan mengahadapi
kehidupan. Tak perlu melawan. Logikanya begini. Waktu
aku menginjak usia praremaja, pernah berkelahi dengan
seorang teman sekelas, itupun gara-gara diadu domba
oleh teman-teman sekelas yang lain. Berdua kami
dimasukkan dalam sebuah ruangan yang biasanya dipakai
mengganti kostum saat jam pelajaran olah raga. ”ayo.”
kata temanku, eh..bukan teman, di ruang sempit ini dia
musuhku walaupun aku tak pernah beranggapan demikian. Aku hanya mempertahankan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Aku mempertahankan harga diri agar tak diinjak-injak oleh kata ‘pengecut’. Kami berdua berada dalam ruang itu. Muka
musuhku ini cengengesan, sebenarnya aku ingin sekali
tertawa melihat mukanya. Muka yang memang
sehari-harinya begitu. Aku hanya diam, lebih baik
menunggu daripada memulai, hal itu aku pilih, sebab
apabila terjadi sesuatu yang kelewat pada diriku atau
musuhku, nilai kesalahanku telah minus satu. Karena
aku tidak memulainya duluan. ”Ah...ini bakalan nggak
jadi berantem. Habis muka musuhku ini lebih pantas
berdiri dipanggung lawak.” Gumamku dalam hati. Mukaku
tegang, belum pernah aku berantem seperti ayam begini.
Teriakan teman-teman yang lain dari lubang angin
ternyata telah membakar hati musuh dihadapanku yang
sejak tiga menit lalu terpaku, mengangkat kedua
kepalan ke dada, sambil cengengesan. Mukanya kini
garang. Gigi seri bagian atas menggigit bagian bawah
bibirnya sendiri. Secepat kilat kami sudah saling
pukul. Saling tendang. Kami membabi buta tanpa suara.
Kami berkelahi seperti ayam jago. Musuhku yang lebih tinggi pun makin gencar melawan. Dia telah merasakan kakiku menghinggapi perutnya.
Musuhku lantas beringas mengincar kepalaku. Dia
berhasil membuat bagian atas gigi seriku menjadi tak
rata, bahkan agak goyang.
Hehehe itu dulu...Melawan hanya membuahkan kesakitan
dan kesakitan akan melahirkan perlawanan, begitu
seterusnya. Lebih baik diam dan berkawan dengan rasa
sakit akibat gencetan-gencetan. Seperti yang kulakukan
saat ini: dengan langkah tenang aku mengarahkan tujuan
ke jendela ruang kamarku yang berukuran dua meter kali
tiga meter. Kurasakan siang itu semilir angin menyibak
kepenatanku. Aku ringan. Hati ringan. Terbang.
Melayang. Di jalan menuruti hatiku, ”Telah aku
kalahkan kemerdekaan!!!” Orang-orang mengarahkan mata
dunianya kepadaku. Mobil diam. Motor diam. Pesawat
diam. Kereta api diam Polisi diam. Pencuri diam.
Gelandangan diam. Laki-laki diam. Perempuan diam.
Banci diam. Tukang parkir diam. Guru diam. Murid diam.
Tentara diam. Aktivis diam. Dokter diam. Pasien diam. Menteri diam. Presiden diam. Mayat-mayat diam. Semuanya diam. Aku sungguh heran
dengan kelengangan jalan ini. Kuturunkan kedua lengan
dari bentuk huruf ’V’ ke arah langit, jalan
meninggalkan tempat itu. ”Hari yang aneh. Benar-benar
siang yang kosong.” hahaha..... Di mana aku..
17 Agustus 2007
No comments:
Post a Comment