Begitu banyak puisi yang kubiarkan patah
di meja, buku-buku tertutup
di suaranya
radio, pada jam
dinding yang terus berputar
di jalanan, di mata kuda
di gang temaram
di deru mesin, pada iklan-iklan
di keheningan videotron,
di pintu
istana yang terbuka, pada derit becak
di langit
senja mata
perempuan yang menatapku
di etalase, pada gesekan eskalator
di kaca spion, pada wajah
anak keheranan
dalam macetnya perjalanan, pada blok-
blok, di kaos penyapu
jalan pada raung
kereta api, pada bisunya lampu merah
di perboden tikungan, pada tekanan pedal
rem mobil-motor,
di suatu tugu, pada perut
lapar kau di sana, menyapaku bersama-
nya- melaluinya
No comments:
Post a Comment