“Sebelum aku
menuliskannya pada kalian, ada senyuman yang ingin aku
tunjukan. Ho ho ho
Seperti sinterklas kan..”
Baiklah, aku akan bercerita. Cerita memang lebih bisa
kalian mengerti ketimbang tulisan. Bagiku, itu wajar karena kalian diajarkan
untuk bersuara, bahkan harus dicubit agar menangis sebagai tanda kelahiran yang
sehat. Dan tulisan, kami harus bersabar memberikan kepada kalian. Namun
setidaknya tenanglah, dan jangan hisap ibu jari kamu, akan dapat kalian lalui.
Ceritaku ini di dalam hidup dan kalianlah yang
kusaksikan. Pada tahun yang sama kita lewati, aku senantiasa berusaha
menyisihkannya bagi kalian. Sebelum segala berhenti untuk mulai kembali. Yang
kuinginkan adalah kalian yang tak pernah lupa pada pelukanku. Kemudian pada
telinga kukatakan, “Tubuh dapat berubah, tingkah boleh bertambah, tapi pelukan
tetap (konstan).” Segera saja kau menjawab dengan kaki-kakimu tentang semua
yang menempel di kepala.
Dan, kamu yang masih kugendong, melirik senyum. Mungkin
kamu ingin mengatakan banyak hal melalui hisapan ibu jari itu. “Aku tahu, kamu
telah terangkum di dalamnya. Hisaplah, karena akan tiba waktunya kamu tak bernikmat-nikmat dengan ibu jari. Ketika gigimu tumbuh merata, mulai terasa sengatnya maka berakhirlah
kenikmatan.” Jangan kuatir, masih banyak yang lain diluar yang satu
itu.
Jadi, semasa kamu di pelukku, perbuatlah sebagaimana yang kelahiran ajarkan.
Jadi, semasa kamu di pelukku, perbuatlah sebagaimana yang kelahiran ajarkan.
Sudah genap kau putari roda-roda sepeda, berjalan maju.
Katamu, “Lihat aku! Lihat aku..! Nih, udah bisa!” Wajahmu riang atas
keberhasilan naik sepeda. Kini kau juga tak perlu turun dari sadel untuk
memutar stang ketika butuh belokan. Kayuh, terus kayuh roda-rodanya hingga
kecepatan membebaskan sepasang roda kecil yang menjaga kau seimbang. Kelak
angin akan meniadakan keseimbangan semu yang tercipta oleh roda kecil. Disanalah
kau sadari kayuhan sebenarnya. Kayuh pelupaan mimpi didesir-desir jantung
suka cita.
Untuk kamu, roda-roda padat pada bulatan membuat tubuh
tegak. Kamu tak pernah mengernyitkan ketakutan dikecepatan langkah
menurun-menanjak, lurus-belok. Terus bergerak walau licin atau kasar. Selalu
ada tawa mengejarmu. Tetapi perihal kembali, menjadikan kamu bosan sendiri.
Tekukan kaki-kaki menjadi tandanya. Bila kebosanan mulai menghinggapi, tiada
lain yang kamu perbuat selain menghisap ibu jari. Tak jemu bagi yang satu itu.
Inilah yang membangkitkan semangat mamak kalian. Adalah
menghancurkan takut dan hisapan ibu jari. Aku menyaksikannya, ia menumbuk rasa
pahit lalu membalurkannya ke jari-jari kamu. Padahal ia tahu benar, hanya ibu
jari yang kamu sukai. Oleh baluran itu, dikiranya, kamu akan berpindah menghisap
jari lainnya. Sebagai antisipasi, diratakannya rasa pahit sehingga tak satupun
yang tak berubah warna karenanya. Sebentar saja rasa pahit itu berhasil menahan
kamu. Ibumu mungkin puas karena ia mengira telah berhasil menundukkan ibu jari
kamu.
Hahahaha.. Aku terpingkal menyaksikan ibu jari kamu
memperoleh kesenangannya. Tapi, tawa itu tak kutujukan bagi kemampuanmu melawan
pahit. Tawaku hadir atas parodi yang bermain di antara kamu dan mamakmu. Kamu
membuat mamakmu kembali menggerus pahit. Kali ini ia tambahkan plester serta sedikit
air, semakin memperpanjang rasa pahit yang diplesterkan ke ibu jari kamu. Jari yang
lain cukup dicelup ke dalam gerusan pahit. Plester membuat ibu jari kamu tampak
gembung dalam tatapanmu yang sepertinya menganggap ini sangat mengesalkan.
Aku tahu, kamu pasti mampu menghisap pahit yang menebal dan mamakmu akan mencari
jalan lain.
Adakalanya tidur akan mengisahkan ceritanya sendiri. Kau
tahu, sebenarnya cerita-cerita dikala tidur hadir dalam plot-plot yang tersusun
oleh kayuhan kaki-kakimu. Dan ketegangan oleh rasa takut muncul karena
kesadaran kau menuturkannya kembali kepadaku yang tidur di sampingmu. Meskipun
begitu kau tetap saja menangis takut. “Ah, kau barangkali dicubit impi.”
Seperti terlahir kembali kau hampiri ibu, mencari-cari kehangatan mulamu, masuk kamar menangis. Naik kasur menangis. “Ssssttt.. Diam. Sudah tidur lagi.”
Tinggal aku sendiri.
Mungkin ada api di mimpimu. Mungkin air. Mungkin hantu.
Mungkin sepeda. Mungkin kami yang di rumah. Yang pasti, ada tangis mengakhiri
semuanya. Bukan satu malam saja, melainkan bermalam-malam mimpi hadir. Yakinlah,
bapak-mamakmu hadir melebihi mimpi. Lebih dari itu semua aku suka kau tak jera.
Seperti kau menabrak di kelokan ketika bersepeda demikian hadapi tiap mimpi. Bangun dan
bersepeda lagi di pelataran. Tenang.
Keberhasilan kamu menawarkan pahit makin teruji. Entah
apalagi yang akan digerus mamak kamu. Satu kepastian ada, pertemuan antara
waktu kamu dan waktu mamakmu yang akan mengakhiri parodi. Tidak saat ini,
ketika aku belum pergi. Atau, jangan-jangan kamu tak menginginkan aku sabagai
saksi pelepasan kekanak-kanakan itu. Ah, kamu tidak tahu, aku bahkan
mengatasimu. Kamu barulah sebatas menghisap ibu jari sedangkan aku bisa
menyulapnya menjadi ada lalu tidak ada. Baiklah, kalau kamu menginginkannya,
aku juga tak akan menghentikannya. Tapi, kamu jangan salahkan mamak yang terus
menggerus sampai ada pertemuan waktu kalian.
Menjauhlah kau ketika aku dan bapakmu merokok. Mengapa
kami selalu mengatakannya, agar kau tahu, mata kecilmu bisa pedih oleh asap
yang kami hembuskan. Hidungmu itu belum sanggup menyaring asap dan paru-parumu
belum imun terhadap racun-racun yang lolos dari penyaringan hidung. Dan, yang
paling penting, kami tidak suka kau menirukan tiap gerakan saat merokok, bagaimana memegang, menghisap, dan menghembuskannya. Sebab, itu berati kau
sedang menanam di kepalamu. Apa yang telah di tanam di kepala tak bisa
dicabut. Tumbuhlah yang berlangsung. Pertumbuhan pada benih yang ini tidak kami
harapkan. Jadi, menjauh.. jauh-jauhlah pada saat kami merokok. Atau, mungkin
kami yang harus sembunyi. “Hmmm…”
Hari libur adalah persediaan. Bukan aku atau mamakmu yang
menentukan hari. Sebab bagi kami tiap hari adalah libur dan tiap hari adalah
gerak. Sama seperti aku dan kamu. Maka bersukalah dihari libur karena di situ
ada peluk yang tertunda. Pun bilangan menjadi sempurna sebelum hitungannya berulang lagi.
Pada hari yang libur kau sering menggantung kaki. Kau
menjadi ekor bapakmu. Tahukah kau, sebenarnya bapakmu juga ingin menjadi
ekormu, karena rindunya. Disatu hari libur tak ada mimpi yang membuat kau
takut. Bapak akan menjaga di pintumu sehingga mimpi kehilangan taring. Di
samping, peluk bapakmu, tidur dan masuki mimpi tanpa tangis. Nanti kita nonton
kartun lagi.
Kamu tak juga berhenti menghisap ibu jari. Meskipun bapak
juga kerap menghadang laju, kamu selalu tahu kesempatan untuk menghisap. Apapun
keadaan; entah sedang didorong bapak pada lingkaran, entah dalam dekapan
menjelang tidur, entah bermain terbang-terbang; kamu tak pernah gagal
menghisap. Maka kelembutan bapak menyaksikan tingkah kamu hanya tertawa.
Walaupun itu tak menahan mamak menggerus pahit. Sudah waktunya berhenti
menghisap. Biar gemuk-biar tumbuh lepaskan ibu jari kamu, harapan bapak.
Hari ini kamu ulang tahun. Kalau waktu itu kamu enggan
mengakhiri kekanak-kanakanmu, mungkinkah hari ini kamu sudahi hisapan itu.
Tepat pada bilangan satu, tegak kamu lewati. Apalagi aku tak bersama kamu. Aku
tak kamu ingini sebagai pelepasan ibu jari dari hisapan. Aku rasa momentumnya
tepat menyudahi hisapan sebab esok hari
kamu sudah lebih dari satu. Sebab esok kau harus menerima tulisan sebagai
desiran baru. Sebab esok kamu tak lagi butuh lingkaran dengan roda-roda
kecilnya.
Esok tulisan berdiri bagi kau dan kamu bersama aku tetap
saksi kalian.
Pada doa yang baru kita mengharap esok kan ada kehidupan
berkata, “Tenang, dan jangan hisap ibu jari kamu.”
: Teruntuk Gian; dan Mercy, happy born day.
20 Mei 2011
No comments:
Post a Comment