Tuesday, 19 November 2013

Tenang Dan Jangan Hisap Ibu Jari Kamu



“Sebelum aku menuliskannya pada kalian, ada senyuman yang ingin aku
tunjukan. Ho ho ho Seperti sinterklas kan..”

Baiklah, aku akan bercerita. Cerita memang lebih bisa kalian mengerti ketimbang tulisan. Bagiku, itu wajar karena kalian diajarkan untuk bersuara, bahkan harus dicubit agar menangis sebagai tanda kelahiran yang sehat. Dan tulisan, kami harus bersabar memberikan kepada kalian. Namun setidaknya tenanglah, dan jangan hisap ibu jari kamu, akan dapat kalian lalui.

Ceritaku ini di dalam hidup dan kalianlah yang kusaksikan. Pada tahun yang sama kita lewati, aku senantiasa berusaha menyisihkannya bagi kalian. Sebelum segala berhenti untuk mulai kembali. Yang kuinginkan adalah kalian yang tak pernah lupa pada pelukanku. Kemudian pada telinga kukatakan, “Tubuh dapat berubah, tingkah boleh bertambah, tapi pelukan tetap (konstan).” Segera saja kau menjawab dengan kaki-kakimu tentang semua yang menempel di kepala.

Dan, kamu yang masih kugendong, melirik senyum. Mungkin kamu ingin mengatakan banyak hal melalui hisapan ibu jari itu. “Aku tahu, kamu telah terangkum di dalamnya. Hisaplah, karena akan tiba waktunya kamu tak bernikmat-nikmat dengan ibu jari. Ketika gigimu tumbuh merata, mulai terasa sengatnya maka berakhirlah kenikmatan.” Jangan kuatir, masih banyak yang lain diluar yang satu itu.
Jadi, semasa kamu di pelukku, perbuatlah sebagaimana yang kelahiran ajarkan.

Sudah genap kau putari roda-roda sepeda, berjalan maju. Katamu, “Lihat aku! Lihat aku..! Nih, udah bisa!” Wajahmu riang atas keberhasilan naik sepeda. Kini kau juga tak perlu turun dari sadel untuk memutar stang ketika butuh belokan. Kayuh, terus kayuh roda-rodanya hingga kecepatan membebaskan sepasang roda kecil yang menjaga kau seimbang. Kelak angin akan meniadakan keseimbangan semu yang tercipta oleh roda kecil. Disanalah kau sadari kayuhan sebenarnya. Kayuh pelupaan mimpi didesir-desir jantung suka cita.

Untuk kamu, roda-roda padat pada bulatan membuat tubuh tegak. Kamu tak pernah mengernyitkan ketakutan dikecepatan langkah menurun-menanjak, lurus-belok. Terus bergerak walau licin atau kasar. Selalu ada tawa mengejarmu. Tetapi perihal kembali, menjadikan kamu bosan sendiri. Tekukan kaki-kaki menjadi tandanya. Bila kebosanan mulai menghinggapi, tiada lain yang kamu perbuat selain menghisap ibu jari. Tak jemu bagi yang satu itu.

Inilah yang membangkitkan semangat mamak kalian. Adalah menghancurkan takut dan hisapan ibu jari. Aku menyaksikannya, ia menumbuk rasa pahit lalu membalurkannya ke jari-jari kamu. Padahal ia tahu benar, hanya ibu jari yang kamu sukai. Oleh baluran itu, dikiranya, kamu akan berpindah menghisap jari lainnya. Sebagai antisipasi, diratakannya rasa pahit sehingga tak satupun yang tak berubah warna karenanya. Sebentar saja rasa pahit itu berhasil menahan kamu. Ibumu mungkin puas karena ia mengira telah berhasil menundukkan ibu jari kamu.

Hahahaha.. Aku terpingkal menyaksikan ibu jari kamu memperoleh kesenangannya. Tapi, tawa itu tak kutujukan bagi kemampuanmu melawan pahit. Tawaku hadir atas parodi yang bermain di antara kamu dan mamakmu. Kamu membuat mamakmu kembali menggerus pahit. Kali ini ia tambahkan plester serta sedikit air, semakin memperpanjang rasa pahit yang diplesterkan ke ibu jari kamu. Jari yang lain cukup dicelup ke dalam gerusan pahit. Plester membuat ibu jari kamu tampak gembung dalam tatapanmu yang sepertinya menganggap ini sangat mengesalkan. Aku tahu, kamu pasti mampu menghisap pahit yang menebal dan mamakmu akan mencari jalan lain.

Adakalanya tidur akan mengisahkan ceritanya sendiri. Kau tahu, sebenarnya cerita-cerita dikala tidur hadir dalam plot-plot yang tersusun oleh kayuhan kaki-kakimu. Dan ketegangan oleh rasa takut muncul karena kesadaran kau menuturkannya kembali kepadaku yang tidur di sampingmu. Meskipun begitu kau tetap saja menangis takut. “Ah, kau barangkali dicubit impi.” Seperti terlahir kembali kau hampiri ibu, mencari-cari kehangatan mulamu, masuk kamar menangis. Naik kasur menangis. “Ssssttt.. Diam. Sudah tidur lagi.” Tinggal aku sendiri.

Mungkin ada api di mimpimu. Mungkin air. Mungkin hantu. Mungkin sepeda. Mungkin kami yang di rumah. Yang pasti, ada tangis mengakhiri semuanya. Bukan satu malam saja, melainkan bermalam-malam mimpi hadir. Yakinlah, bapak-mamakmu hadir melebihi mimpi. Lebih dari itu semua aku suka kau tak jera. Seperti kau menabrak di kelokan ketika bersepeda demikian hadapi tiap mimpi. Bangun dan bersepeda lagi di pelataran. Tenang.

Keberhasilan kamu menawarkan pahit makin teruji. Entah apalagi yang akan digerus mamak kamu. Satu kepastian ada, pertemuan antara waktu kamu dan waktu mamakmu yang akan mengakhiri parodi. Tidak saat ini, ketika aku belum pergi. Atau, jangan-jangan kamu tak menginginkan aku sabagai saksi pelepasan kekanak-kanakan itu. Ah, kamu tidak tahu, aku bahkan mengatasimu. Kamu barulah sebatas menghisap ibu jari sedangkan aku bisa menyulapnya menjadi ada lalu tidak ada. Baiklah, kalau kamu menginginkannya, aku juga tak akan menghentikannya. Tapi, kamu jangan salahkan mamak yang terus menggerus sampai ada pertemuan waktu kalian.

Menjauhlah kau ketika aku dan bapakmu merokok. Mengapa kami selalu mengatakannya, agar kau tahu, mata kecilmu bisa pedih oleh asap yang kami hembuskan. Hidungmu itu belum sanggup menyaring asap dan paru-parumu belum imun terhadap racun-racun yang lolos dari penyaringan hidung. Dan, yang paling penting, kami tidak suka kau menirukan tiap gerakan saat merokok, bagaimana memegang, menghisap, dan menghembuskannya. Sebab, itu berati kau sedang menanam di kepalamu. Apa yang telah di tanam di kepala tak bisa dicabut. Tumbuhlah yang berlangsung. Pertumbuhan pada benih yang ini tidak kami harapkan. Jadi, menjauh.. jauh-jauhlah pada saat kami merokok. Atau, mungkin kami yang harus sembunyi. “Hmmm…”

Hari libur adalah persediaan. Bukan aku atau mamakmu yang menentukan hari. Sebab bagi kami tiap hari adalah libur dan tiap hari adalah gerak. Sama seperti aku dan kamu. Maka bersukalah dihari libur karena di situ ada peluk yang tertunda. Pun bilangan menjadi sempurna sebelum hitungannya berulang lagi.
Pada hari yang libur kau sering menggantung kaki. Kau menjadi ekor bapakmu. Tahukah kau, sebenarnya bapakmu juga ingin menjadi ekormu, karena rindunya. Disatu hari libur tak ada mimpi yang membuat kau takut. Bapak akan menjaga di pintumu sehingga mimpi kehilangan taring. Di samping, peluk bapakmu, tidur dan masuki mimpi tanpa tangis. Nanti kita nonton kartun lagi.

Kamu tak juga berhenti menghisap ibu jari. Meskipun bapak juga kerap menghadang laju, kamu selalu tahu kesempatan untuk menghisap. Apapun keadaan; entah sedang didorong bapak pada lingkaran, entah dalam dekapan menjelang tidur, entah bermain terbang-terbang; kamu tak pernah gagal menghisap. Maka kelembutan bapak menyaksikan tingkah kamu hanya tertawa. Walaupun itu tak menahan mamak menggerus pahit. Sudah waktunya berhenti menghisap. Biar gemuk-biar tumbuh lepaskan ibu jari kamu, harapan bapak.
Hari ini kamu ulang tahun. Kalau waktu itu kamu enggan mengakhiri kekanak-kanakanmu, mungkinkah hari ini kamu sudahi hisapan itu. Tepat pada bilangan satu, tegak kamu lewati. Apalagi aku tak bersama kamu. Aku tak kamu ingini sebagai pelepasan ibu jari dari hisapan. Aku rasa momentumnya tepat menyudahi hisapan  sebab esok hari kamu sudah lebih dari satu. Sebab esok kau harus menerima tulisan sebagai desiran baru. Sebab esok kamu tak lagi butuh lingkaran dengan roda-roda kecilnya.
Esok tulisan berdiri bagi kau dan kamu bersama aku tetap saksi kalian.
Pada doa yang baru kita mengharap esok kan ada kehidupan berkata, “Tenang, dan jangan hisap ibu jari kamu.”


: Teruntuk Gian; dan Mercy, happy born day.

20 Mei 2011

No comments: