Seorang anak telanjang menyambut hujan, melonjak-lonjak
kegirangan siap membaurkan badannya dengan air hujan. Tapi dia tak sanggup bergerak
ke depan, menuju hujan, ada sesuatu yang menahannya. Lalu dia memandang ke belakang, tangan ibunyalah
yang menahan, “Kenapa, Bu? Aku mau main hujan..” Dia heran, tidak biasanya ibu
melarangnya main hujan-hujanan.
“Ibu senang bila kau senang, Nak. Tapi Ibu harus melarangmu
kali ini. Hujan di sini berbeda, Nak, tak seperti hujan di desa kita. Ibu kan
pernah cerita tentang asal air hujan padamu, berasal dari kumpulan uap air yang
terbawa angin. Nah, kau kan sudah melihat sendiri air di kota ini, gotnya,
sungainya, dan lautnya. Ada satu lagi, air keringat. Keringat orang-orang kota lebih kotor dari air sungai yang hitam itu,
Nak.”
Anak itu memandang kening ibunya, “Keringat Ibu juga kotor?”
Ibu mengerutkan dahinya,”Iya, setelah menguap, keringat Ibu
akan bercampur dengan keringat para koruptor, inilah yang menyebabkan keringat
orang kota lebih kotor. Kemudian semua uap
yang kotor itu berkumpul terbawa angin dan menjadi hujan. Ibu nggak mau
air hujan itu meresap ke dalam kepalamu sehingga kau tertular penyakit korupsi.”
"Korupsi itu seperti hujan ya, Bu?"
"Bukan, Nak. Korupsi itu misalnya kau pulang ke rumah dengan membawa mainan temanmu."
"Korupsi itu seperti hujan ya, Bu?"
"Bukan, Nak. Korupsi itu misalnya kau pulang ke rumah dengan membawa mainan temanmu."
Ibu menatap binar mata anaknya, sebuah kejernihan yang memandang segala sesuatu
sama.
Anak itu melepaskan tangan ibunya, berlari girang menyatu
dengan hujan. Sementara ibu menatap anaknya dari teras rumah, berharap air
hujan tidak menembus tubuh anaknya sehingga bercampur dengan air di tubuh
anaknya
No comments:
Post a Comment