Wednesday, 19 March 2014

Jangan Main Hujan Di Kota



Seorang anak telanjang menyambut hujan, melonjak-lonjak kegirangan siap membaurkan badannya dengan air hujan. Tapi dia tak sanggup bergerak ke depan, menuju hujan, ada sesuatu yang menahannya.  Lalu dia memandang ke belakang, tangan ibunyalah yang menahan, “Kenapa, Bu? Aku mau main hujan..” Dia heran, tidak biasanya ibu melarangnya main hujan-hujanan.
“Ibu senang bila kau senang, Nak. Tapi Ibu harus melarangmu kali ini. Hujan di sini berbeda, Nak, tak seperti hujan di desa kita. Ibu kan pernah cerita tentang asal air hujan padamu, berasal dari kumpulan uap air yang terbawa angin. Nah, kau kan sudah melihat sendiri air di kota ini, gotnya, sungainya, dan lautnya. Ada satu lagi, air keringat. Keringat orang-orang  kota lebih kotor dari air sungai yang hitam itu, Nak.”
Anak itu memandang kening ibunya, “Keringat Ibu juga kotor?”
Ibu mengerutkan dahinya,”Iya, setelah menguap, keringat Ibu akan bercampur dengan keringat para koruptor, inilah yang menyebabkan keringat orang kota lebih kotor. Kemudian semua uap yang kotor itu berkumpul terbawa angin dan menjadi hujan. Ibu nggak mau air hujan itu meresap ke dalam kepalamu sehingga kau tertular penyakit korupsi.”
"Korupsi itu seperti hujan ya, Bu?"
"Bukan, Nak. Korupsi itu misalnya kau pulang ke rumah dengan membawa mainan temanmu."
Ibu menatap binar mata anaknya, sebuah kejernihan yang memandang segala sesuatu sama.
Anak itu melepaskan tangan ibunya, berlari girang menyatu dengan hujan. Sementara ibu menatap anaknya dari teras rumah, berharap air hujan tidak menembus tubuh anaknya sehingga bercampur dengan air di tubuh anaknya

No comments: