![]() |
| Sun Rise At Mount |
Terkadang aku merasa usia jiwaku tak segaris lurus dengan usia tubuhku. Aku yang jiwaku seolah terperangkap di dalam tubuh yang tubuhku sekarang ini. Hingga suatu petang hari yang belum pernah tubuhku alami, di rimbun hujan, aku berteriak kepada langit. "Berapakah usia jiwaku?" Pertanyaan yang kuteriakkan kepada langit berlawan hujan.Tak ada jawaban. Tak ada perubahan yang terjadi pada diriku seperti kisah titik balik seorang pecundang menjadi super hero. Tak ada petir yang menyambar kepalaku kemudian membuat aku memiliki energi supranormal. Tak juga hujan memampukanku mendengarkan suara Tuhan atau melihat Tuhan sama seperti aku mendengar dan melihat tetumbuhan, hewan, manusia, dan segala yang kasat mata. Aku tetaplah manusia.
Namun, sejak peristiwa itu aku makin yakin bahwa usia tubuhku -manusia- tidak sama dengan usia jiwaku. Tuhan yang menetapkan masa. Dia yang tahu pangkal dan ujungnya waktu. Demikianlah jiwa dan tubuhku berada di putaran waktu. Tak dapat kubayangkan jika semuanya diciptakan Tuhan secara serempak. Tumbuhan dari berbagai jenis tumbuh memenuhi bumi, hewan dengan berbagai ukuran tiba-tiba berkeliaran. Atau, manusia sesuai kehendak sang pencipta jumlahnya mendiami bumi. Tak ada regenerasi. Tak berkembang biak. Sekali tercipta setelah itu sepi. Lalu, Tuhan mencipta kembali, mengulang proses yang sama sampai bosan sendiri. Generasi dan regenerasi seolah menjawab pertanyaanku di rimbun hujan petang hari itu.
Tubuh yang didiami jiwaku berumur segaris lurus dengan proses kelahiran dari rahim ibu. Ilmu biologi tingkat dasar mengatakan bahwa aku terbentuk dari bersatunya sperma dan ovum yang menjadi zigoth. Dari sinilah janin bersemayam di rahim ibuku. Demikianlah proses terbentuknya fisik, tubuhku. Lantas, di manakah proses terjadinya jiwaku?
Bila kuibaratkan Tuhan memiliki buku kehidupan yang berisi kelahiran, proses hidup, dan kematian, tentunya Tuhan yang sama memiliki tempat bagi jiwa-jiwa yang menanti mendiami sebuah tubuh seperti tubuhku ini. Jiwaku mungkin telah Tuhan hembuskan beratus atau beribu tahun sebelum terlahir secara fisik melalui pintu rahim ibu. Kelahiran pertamaku adalah jiwaku sedangkan kelahiran keduaku melalui rahim ibuku.
Pikiranku melambung, mungkin itulah yang menjadikan manusia memiliki dua sifat seks dalam diri, laki-laki dan perempuan, bukannya Man Are from Mars And Women Are From Venus yang menunjukkan keberjarakan atau perbedaan. Bagiku, ada sisi perempuan dalam diriku yang laki-laki dan ada sisi laki-laki dalam diri seorang perempuan. Apa yang tampak hanyalah dominasi. Di dunia yang didominasi pemikiran 'history' bukan 'herstory' Tuhan disifatkan maskulin, laki-laki.
Selanjutnya aku berandai-andai jika Tuhan sebenarnya feminim. Atau, Tuhan tidaklah maskulin maupun feminim melainkan androgini.
"Heh! Kau mulai melantur! Jadi, berapa usia jiwamu?"

No comments:
Post a Comment