Namun, bukanlah keliru bila memfokusi apa-apa sepanjang
perjalanan. Bukan berarti pula memecah-pecah fokus, karena betapa sayang hal
ihwal berkelindan begitu saja. Mungkin bagi sebagian orang yang menganggap
kehidupan bukan suatu kebetulan, mencermati segenap peristiwa dalam perjalanan
menjadi bagian dari seni hidup. Dalam gaya hiperbolik bolehlah dinyatakan
sebagai tidak mengacuhkan apapun hingga seiota debu.
Fokus yang demikian tentu sangat menguras
energi. Mungkin fisik. Mungkin pikiran. Mungkin batin. Tapi, bukankah itu
konsekuensi yang semestinya ditanggung? Ya, barangkali hidup ini akan terus
disesaki konsekuensi-konsekuensi yang menuntut dilunasi.
Rasanya bukan ironi atau parodi ataupun
tragedi, karena kenyataan manakah yang tak membawa konsekuensi?
Taruhlah manusia adalah ciptaan paling sempurna,
dan memang demikian bila metode perbandingan yang digunakan sebagai pengujinya.
Ciptaan Tuhan yang mampu berpikir dan mengolahnya menjadi teknologi, strategi,
seni, juga pakaian; yang dipakai sekalipun takkan sanggup
terhindar dari konsekuensi. Baik, rasa ingin tahu dan kecerdasan manusia
mungkin akan mampu mengeksodoskan seluruh manusia ke mars atau venus, tapi
bukankah keberadaan planet-planet itu juga merupakan konsekuensi?
Lantas, apa sebenarnya konsekuensi? Omnipresent,
ya..seolah-olah abadi. Sebab, setelah kehidupan di bumi ini pun, konsekuensi
ada.
Sebenarnya kemanakah arah semua ini?
Bukankah di awal sudah ternyatakan; terkadang
sebuah perjalanan yang bertujuan, terdapat belokan. Maka beloklah bila ada,
bila tak, ber keyakinan.
No comments:
Post a Comment