Di Kursi Roda Laki-laki Tua Menanti
Istrinya yang pergi -Menengok
Cucu-cucu Mereka, Penuh Rindu
Kekasihku, mengapa kau tak kunjung
pulang. Aku tahu kaupun tahu betapa lelah
rindu ini. Seperti hati dilarung
ombak di depan rumah kita yang selalu kupandang
sendiri, aku tahu
kaupun tahu jari-jariku hilang
sabar menanggung teh bikinanmu. Yang beraroma lekat
selekat kau ingin jadi bunganya
ketika kanak-kanak dulu. Telinga sepi
dari suara alas
gelas yang beradu meja karna gesaanmu
jawab panggilanku. Kursi yang biasa kau
duduk sudah dingin, tak ada gesekan nafasmu, waktu
buka buku, kasihku masih satu yang mesti kita
baca.
Kau pamit sekian purnama jumpai
cucu-cucu kita. Aku rela
tak turut karena takut
merepotimu mendorong kursiku.
Meskipun kau terus merayuku serta, aku pilih nunggumu
agar kudengar suaramu bercerita
tentang cucu-cucu kita yang
terus tumbuh, sepulangmu.
Kasihku, bukan luka
atau sepi yang buatku ngeri saat kau tiada
di sini adalah kehilangan sentuh rasamu.
Kau harus tahu burung-burung senja
seperti rasakan dukaku hingga tak lintas. Lautpun
kini enggan pecah karang. Angin hilang gerak.
Awan bak dihantam matahari hingga lebam, dan bulan
berbisik-bisik resah percepat purnama.
Tak ada yang gagah mengucap salam
padaku. Maka genap
senyapku. Aku tahu kau pun ingin segera tutup
koper, tapi cucu-cucu kita peluk
kakimu. Jadikan kasihmu yang besar limbung. Tidur
jadi siksa, tanpa aku. Seluruhmu
aku tahu ingin bersegera ke sisiku -Lantas cepat-cepat
kau angkat cucu-cucu, yang sama-sama kita kasihi,
ke pembaringan mencari-cari wajahku.
Kekasihku, puaskanlah cucu-cucu kita
agar mereka tahu, dirinyalah yang terbesar
di antara kita. Adalah tiap waktu yang lewat
pengantar tawa mereka kepada masa-
ke depan. Cerita-cerita yang kau berikan -
cukupkanlah mereka tahu tanpa kau paksakan
ikut rasakan getir masa lalu. Biar mereka punya hati
yang menimbang, kau cukup jawab tiap tanya
mereka. Setelahnya segeralah kita
minum teh di kursiku-di kursimu,
yang setia menopang kerentaan
pandang senja yang segera kita tuangkan kepada
siapapun.
| Tao Toba |
9 Juli 2011
No comments:
Post a Comment