Ini hari apa, aku tak tahu. Ini tanggal keberapa, aku tak
tahu. Ini tahun yang kemana, aku sudah tidak tahu. Yang jelas aku ingat, ini
waktu lebih pagi ketimbang kemarin. Yang aku rasa, dingin kian merenjana. Yang
aku bingung, melihat dia bertahan di sana. Seperti waktu tidak kulupa,
seharusnya dia melangit. Merasakan denyar-denyar angin dalam layang. Menahan
musim pada kelembutan bulu-bulu. Setidaknya, dia hinggap di pohon paling julang
kemudian berlantun bagi gemawan yang bimbang arah. Akan lebih romantis, dimalam
dia mengkerut di sarang bersama kekasihnya, menandai buliran-buliran padi di
langit untuk dihabiskan saat siang. Atau, keindahan bulu dan suaranya akan
mengarahkan tukang pikat. Tukang pikat yang hanya sekali melihat dan mendengar
mampu menaksir harga yang pantas
baginya. Lalu dia dijual kepada saudagar yang menyanggupi batas atas harga,
merawat, dan memenuhi segala kebutuhannya.
Diwaktu selimut mulai ditarik. Pada duka yang puncak, aku
angkat dia dari sangkar, menyerahkannya pada langit. Bukan tiada sayang atapun bersebab sayang yang lain aku buru-buru tutup
pintu. Kubenamkan diri di kosongnya dada karena segala isi dada telah aku
giling menjadi adonan serupa makanannya. Tentu dengan ketelitian ukuran,
bentuk, rasa, warna, dan aroma agar dia tetap berselera tanpa menyadari yang
ditelannya adalah isi dadaku.
Memang Tuhan tak pernah ingkar janji terhadap semua
ciptaan. Burung-burung di langit yang tidak menabur dan yang tidak menuai dan
tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan. Maka, bagi dia yang
di sangkar, Tuhan kirimkan aku sebagai makanannya. Isi dada kuberikan bagi dia
karena aku sendiri sudah tak punya tanah untuk menabur, tak punya apa-apa untuk
menanam. Bila piramida rantai makanan
mendudukkan yang terkuat di puncak sebagai pemangsa bagi yang lemah, tidak
demikian dengan piramida kehidupan. Piramida ini menempatkan yang terkuat memberi makan kepada yang lemah. Demi dia hidup
kuberikan isi dada.
Mataku masih tajam untuk sekedar memastikan dia terbang waktu
itu. Tapi sekarang dia sudah di bibir pintu sangkarnya. Diam dan tegak
menyalang ke arahku. Entah berapa lama sudah dia ada di sana. Entah apa yang
membuat dia kembali. Entah apa yang dia harapkan pada ketiadaanku ini.
Aku berjalan ke arah dia, mengangkatnya dari bibir pintu
dan berbisik, “Terbanglah, kebebasan milikmu. Biar Tuhan yang mencukupimu sebab
kini tiada lagi yang sanggup kugiling sebagai makanan. Apalagi yang tersedia
pada dada kosong? Aku tak tahu. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus kuhabiskan
waktu mendatang. Terbanglah, ini sayangku padamu.” Dia menggeliat-geliat dalam
dekapan jemariku. “O, kau sudah tak sabar?” Isyarat yang kutangkap dari geliatnya, dia ingin
segera terbang, yang kali ini, tanpa pernah kembali lagi. Dan memang demikian
semestinya, juga harapanku. Matanya menyalang, lehernya bergerak ke atas-ke
bawah, seolah dia mendengar suara hatiku dan menyetujuinya. “Baik, terbanglah
sayangku.” Kepada langit kembali dia kupercayakan. Sejurus dia terbang,
perlahan memunggungi mataku yang mulai menggumpal. Sangkar bukanlah rumah,
melompat bukanlah gerakmu; melainkan terbang ke langit rumahmu, itulah arti
pecahnya cangkangmu.
Belum hilang ditatapan, dia berputar terbang ke arahku. Seperti atlet loncat jauh
dalam ancang-ancang, dia melesat. Makin dekat semakin cepat sayap, dia masuk di
dadaku bersama pendar cahaya.
22 Sptember 2011
No comments:
Post a Comment