Sunday, 3 November 2013

Lebih Dari Setia



Ini hari apa, aku tak tahu. Ini tanggal keberapa, aku tak tahu. Ini tahun yang kemana, aku sudah tidak tahu. Yang jelas aku ingat, ini waktu lebih pagi ketimbang kemarin. Yang aku rasa, dingin kian merenjana. Yang aku bingung, melihat dia bertahan di sana. Seperti waktu tidak kulupa, seharusnya dia melangit. Merasakan denyar-denyar angin dalam layang. Menahan musim pada kelembutan bulu-bulu. Setidaknya, dia hinggap di pohon paling julang kemudian berlantun bagi gemawan yang bimbang arah. Akan lebih romantis, dimalam dia mengkerut di sarang bersama kekasihnya, menandai buliran-buliran padi di langit untuk dihabiskan saat siang. Atau, keindahan bulu dan suaranya akan mengarahkan tukang pikat. Tukang pikat yang hanya sekali melihat dan mendengar mampu menaksir  harga yang pantas baginya. Lalu dia dijual kepada saudagar yang menyanggupi batas atas harga, merawat, dan memenuhi segala kebutuhannya.

Diwaktu selimut mulai ditarik. Pada duka yang puncak, aku angkat dia dari sangkar, menyerahkannya pada langit. Bukan tiada sayang  atapun  bersebab sayang yang lain aku buru-buru tutup pintu. Kubenamkan diri di kosongnya dada karena segala isi dada telah aku giling menjadi adonan serupa makanannya. Tentu dengan ketelitian ukuran, bentuk, rasa, warna, dan aroma agar dia tetap berselera tanpa menyadari yang ditelannya adalah isi dadaku.
Memang Tuhan tak pernah ingkar janji terhadap semua ciptaan. Burung-burung di langit yang tidak menabur dan yang tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan. Maka, bagi dia yang di sangkar, Tuhan kirimkan aku sebagai makanannya. Isi dada kuberikan bagi dia karena aku sendiri sudah tak punya tanah untuk menabur, tak punya apa-apa untuk menanam. Bila piramida rantai  makanan mendudukkan yang terkuat di puncak sebagai pemangsa bagi yang lemah, tidak demikian dengan piramida kehidupan.  Piramida ini menempatkan yang terkuat memberi  makan kepada yang lemah. Demi dia hidup kuberikan isi dada.

Mataku masih tajam untuk sekedar memastikan dia terbang waktu itu. Tapi sekarang dia sudah di bibir pintu sangkarnya. Diam dan tegak menyalang ke arahku. Entah berapa lama sudah dia ada di sana. Entah apa yang membuat dia kembali. Entah apa yang dia harapkan pada ketiadaanku ini.
Aku berjalan ke arah dia, mengangkatnya dari bibir pintu dan berbisik, “Terbanglah, kebebasan milikmu. Biar Tuhan yang mencukupimu sebab kini tiada lagi yang sanggup kugiling sebagai makanan. Apalagi yang tersedia pada dada kosong? Aku tak tahu. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus kuhabiskan waktu mendatang. Terbanglah, ini sayangku padamu.” Dia menggeliat-geliat dalam dekapan jemariku. “O, kau sudah tak sabar?” Isyarat  yang kutangkap dari geliatnya, dia ingin segera terbang, yang kali ini, tanpa pernah kembali lagi. Dan memang demikian semestinya, juga harapanku. Matanya menyalang, lehernya bergerak ke atas-ke bawah, seolah dia mendengar suara hatiku dan menyetujuinya. “Baik, terbanglah sayangku.” Kepada langit kembali dia kupercayakan. Sejurus dia terbang, perlahan memunggungi mataku yang mulai menggumpal. Sangkar bukanlah rumah, melompat bukanlah gerakmu; melainkan terbang ke langit rumahmu, itulah arti pecahnya cangkangmu.
Belum hilang ditatapan, dia berputar  terbang ke arahku. Seperti atlet loncat jauh dalam ancang-ancang, dia melesat. Makin dekat semakin cepat sayap, dia masuk di dadaku bersama pendar cahaya.

22  Sptember 2011

No comments: