Aku mulai membaca novel Dunia Sophie ketika hujan melebat pada Sabtu sore, 19 April 2014. Semenjak memegang dan membuka Dunia Sophie, semasa kuliah dulu, aku belum pernah membacanya sampai selesai. Sebagai mahasiswa kelas bawah, tingkat kiriman uang bulanannya, aku tak sanggup membeli novel-novel dengan harga 'rak toko buku',kalau tidak salah novel Dunia Sophie dulu harganya Rp. 45. 000. Kondisi ini sering membuatku bertahan berdiri di depan rak toko buku, membaca novel yang tak sanggup kubeli. Bazar bukulah yang sering menyelamatkan dahagaku, bukan sekedar untuk membaca buku melainkan juga memiliki fisiknya. Harga buku di bazar bisa lebih setengah turunnya. Untuk harga yang sudah dimiringkan itupun aku harus mengatur keungan, setidaknya aku harus mengurangi frekuensi makan sekali dalam sehari sepanjang bulan. Dan, aku belum pernah menemukan Dunia Sophie dijajarkan di rak buku bazar, terakahir kalau tidak salah lihat harganya sudah Rp.100.000.
Keinginan untuk menyelesaikan Dunia Sophie muncul setelah aku membeli novel berjudul Maya karangan Jostein Gaarder, yang juga penulis Dunia Sophie, di bazar buku. Hampir separuh Maya kubaca ketika niatan itu menguat. Akhirnya aku mencari unduhan novel Dunia Sophie di internet, membacanya, dan gratis pula!
Hujan kian menderas, membasahi halaman Dunia Sophie yang kumasuki, versi soft copynya-aku lebih suka versi bukunya. Sophie tampak kaget menemukan surat hanya bertuliskan "Siapakah Kamu?" Kerlap cahaya memasuki kamarku melalui jendela, halilintar menggelegar memberikan efek kejut bagiku, mungkin sama terkejutnya dengan Sophie. Siapakah Aku?
Aku tak ingin ikut serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang misterius kepada Sophie. Aku menikmati kebingungan Sophie yang tak lama itu lalu berubah menjadi sebuah ketertarikan. Sama seperti yang diungkapkan sosok misterius bahwa keingintahuan merupakan pijakan bagi filsuf. Demikianlah Sophie yang mula-mula bingung menerima surat-surat yang datang, kini selalu merenungkan perkataan di dalamnya dan bertanya-tanya isi surat yang belum diterimanya. Cara berpikirnya juga mulai mengikuti sosok misterius.
Hubungan mereka kini layaknya guru dan murid dan aku hanyalah secret of mirror Si Sophie. Dari balik pohon kuperhatikan Sophie tekun menyimak surat-surat yang dia terima, berharap dia baik-baik saja dengan segala pemikiran barunya. Aku kian kagum terhadap kecepatan belajar Sophie, walaupun umur baru 14 tahun; dia mampu menerima, mengikuti, mencerna, dan menemukan jalan pikirannya sendiri dari pelajaran filosofi yang dikirim guru misteriusnya.
Sementara kutinggalkan Sophie yang berusaha menemukan wajah guru misterius dari balik jendela kamarnya. Kunyalakan dispenser, menyiapkan kopi sachet ke dalam gelas. Aku menatap ke luar kamar, sembari menanti air memanas. Bunyi hujan kian rapat bagaikan suara jimbe beritme cepat diiringi simbal halilintar. Apakah yang sedang kurayakan?
Kehidupankah?
Dirikukah? Atau,
Dia yang mati di kayu salib yang kemarin kuperingati peristiwanya? Ssssrrrr glak..glak.. Air jernih itu berpindah dari galon ke gelasku-dari ruang yang besar menuju ruang yang kecil-menjadi hitam namun memiliki rasa. Panas merambati jemariku, "Aaahhh.. Sophiiieee..
Di mana Sophie?"
Keinginan untuk menyelesaikan Dunia Sophie muncul setelah aku membeli novel berjudul Maya karangan Jostein Gaarder, yang juga penulis Dunia Sophie, di bazar buku. Hampir separuh Maya kubaca ketika niatan itu menguat. Akhirnya aku mencari unduhan novel Dunia Sophie di internet, membacanya, dan gratis pula!
Hujan kian menderas, membasahi halaman Dunia Sophie yang kumasuki, versi soft copynya-aku lebih suka versi bukunya. Sophie tampak kaget menemukan surat hanya bertuliskan "Siapakah Kamu?" Kerlap cahaya memasuki kamarku melalui jendela, halilintar menggelegar memberikan efek kejut bagiku, mungkin sama terkejutnya dengan Sophie. Siapakah Aku?
Aku tak ingin ikut serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang misterius kepada Sophie. Aku menikmati kebingungan Sophie yang tak lama itu lalu berubah menjadi sebuah ketertarikan. Sama seperti yang diungkapkan sosok misterius bahwa keingintahuan merupakan pijakan bagi filsuf. Demikianlah Sophie yang mula-mula bingung menerima surat-surat yang datang, kini selalu merenungkan perkataan di dalamnya dan bertanya-tanya isi surat yang belum diterimanya. Cara berpikirnya juga mulai mengikuti sosok misterius.
Hubungan mereka kini layaknya guru dan murid dan aku hanyalah secret of mirror Si Sophie. Dari balik pohon kuperhatikan Sophie tekun menyimak surat-surat yang dia terima, berharap dia baik-baik saja dengan segala pemikiran barunya. Aku kian kagum terhadap kecepatan belajar Sophie, walaupun umur baru 14 tahun; dia mampu menerima, mengikuti, mencerna, dan menemukan jalan pikirannya sendiri dari pelajaran filosofi yang dikirim guru misteriusnya.
Sementara kutinggalkan Sophie yang berusaha menemukan wajah guru misterius dari balik jendela kamarnya. Kunyalakan dispenser, menyiapkan kopi sachet ke dalam gelas. Aku menatap ke luar kamar, sembari menanti air memanas. Bunyi hujan kian rapat bagaikan suara jimbe beritme cepat diiringi simbal halilintar. Apakah yang sedang kurayakan?
Kehidupankah?
Dirikukah? Atau,
Dia yang mati di kayu salib yang kemarin kuperingati peristiwanya? Ssssrrrr glak..glak.. Air jernih itu berpindah dari galon ke gelasku-dari ruang yang besar menuju ruang yang kecil-menjadi hitam namun memiliki rasa. Panas merambati jemariku, "Aaahhh.. Sophiiieee..
Di mana Sophie?"
No comments:
Post a Comment