Tuesday, 22 April 2014

Dunia Sophie, Hujan, Halilintar, Dan Kopi : Seksi! (2)

Entah apa kaitannya Dunia Sophie; dengan hujan, halilintar, dan kopi. Hanya, setiap aku mulai ingin membaca Dunia Sophie, keempatnya seperti sebuah ikatan yang tak terputuskan.
Aku heran, dibulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, frekuensi hujan masih sangat tinggi. Itupun selalu disertai halilintar tiap datangnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan bumi?
Cuaca yang tak menentu akan sangat berpengaruh bagi gerak hidup manusia. Musim tanam bisa jadi amburadul dan yang paling sederhana efektifitas kerja jadi terhambat.
Nah, kalau sudah datang hujan, kopi menjadi pendamping yang tepat untuk menghangatkan suasana.
Dunia-iklim-makin tak mampu diprediksi. Mungkin inilah imbas dari rekayasa cuaca, kebakaran hutan, berkurangnya luas hutan sebagai penyangga hujan, dan banyak faktor lainnya.
Tata ruang dunia makin kacau karena makin tidak seimbangnya tempat hunian dengan faktor-faktor keseimbangan ekosistem, seperti hutan penyangga hujan itu tadi.
Perubahanlah yang juga ibunya Sophie rasakan pada diri Sophie akhir-akhir ini. Sebenarnya perubahan Sophie mulai tampak ketika bercerita tentang kelinci dan topi pesulap, namun ibunya tidak menanggapi secara serius justru mengira Sophie memakai candu. Begitu juga dengan surat yang tertuju bagi putrinya, dia mengira itu berasal dari laki-laki seusia putrinya. Mungkin dia mengira itu hanya pubertas biasa yang dialami putrinya -anak laki-laki teman sekolah berkirim surat menunjukkan ketertarikannya- diusia praremaja.
Memang Sophie telah berubah sejak mulai memikirkan pertanyaan 'Siapakah kamu?' terlebih lagi pelajaran-pelajaran filsafat yang terus diberikan guru misteriusnya. Filsafat telah mempengaruhi cara berpikir Sophie. Dia bukan lagi Sophie yang suka bermain kartu bersama Joanna, sahabatnya. Dia lebih senang menantikan surat-surat dari guru misteriusnya ketimbang nonton tv bersama ibunya. Dia juga tidak ingin menjadi bahan kekuatiran ibunya, dengan kata lain dia ingin diperlakukan secara mandiri.
Aku tak menganggap perubahan yang dialami Sophie sebagai suatu masalah atau perubahan yang menjurus negatif. Sebagaimana pohon, tempat aku menyaksikan Sophie dan segala perubahannya, makin bertambah hari makin bertumbuh. Makin banyak carang dan daunnya yang kelak akan menghasilkan buah.
Bagiku buah dari filsafat adalah tindakan dan perilaku. Perubahan yang dialami Sophie belumlah buah. Awalnya itu hanyalah reaksi dari ketertarikan atau keingintahuan pada sosok pengirim surat. Kemudian ketertarikan pada isi surat. Dua hal inilah yang mendasari perubahan Sophie. Dia lebih memilih menarik diri dari kegiatan yang biasanya dilakukan, misalnya dari ibunya maupun sahabatnya. Ini aku anggap wajar sebab ada konsekuensi dari setiap yang kita ingin raih. Sophie ingin mengetahui si sosok misterius sehingga dia harus menunggui kotak surat dengan mengamati melalui jendela kamarnya. Dia juga tertarik terhadap filsafat maka dengan setia menantikan kiriman surat dan membaca tiap bahasan yang diberikan.
Setelah beberapa hari aku memperhatikan Dunia Sophie semakin membuat aku tak mengerti apa-apa tentang filsafat. Apa sebenarnya filsafat sehingga bisa meng-'upgrade' cara berpikir gadis belia, Sophie, dalam waktu cukup singkat sehingga dia tampak lebih dewasa ketimbang usianya? Padahal, bila kuperhatikan, pertanyaan-pertanyaan filsafat lebih mirip pertanyaan kanak-kanak.
Aku sering bermain dengan kanak-kanak, di antaranya dengan keponakanku berusia lima tahun. Disaat sedang bermain bola; pertanyaan yang pernah muncul padaku antara lain, "Ini-bola-isinya apa?" Jawabanku : Udara. Ditanya lagi "Udara itu apa?" Aku mulai kebingungan harus menjelaskan bagaimana, lantas kujawab :Ini (sambil menghembuskan udara dari hidung ke tangannya. Terus ditanya lagi, "Kenapa kita bernafas?"
Demikianlah filsafat tidak akan pernah selesai bila dimulai. Hanya orang-orang yang mau memberikan dirinya dan konsisten yang (mungkin) akan sampai pada akhir jawaban.
Lantas, mengapa pada Sophie, gadis berumur 14 tahun, pelajaran filsafat itu diajarkan?
Inikah filsafat? Tiba-tiba aku mendengar hawa, yang bersembunyi di balik semak-semak selepas memakan buah terlarang, berkata, "Aku malu karena aku telanjang."

No comments: