Wednesday, 23 April 2014

Hari Buku Sedunia Dan Cita-Cita Mencerdaskan Bangsa

Ijinkan saya mengungkapkan pertanyaan yang ada di benak saya ketika menuliskan judul tulisan ini, yaitu:  Adakah kaitan antara hari buku dengan cita-cita mencerdaskan bangsa?

23 April kita peringati sebagai hari buku sedunia yang walaupun diperingati tiap tahun, dalam pandangan saya semarak peringatannya tidak pernah terlihat. Sesaat saya mengkalaidoskopi diri ihwal hari buku sedunia ini. Hampir tak ada kenangan, sepanjang yang saya ingat, tentang hari buku sedunia mulai sejak saya di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU), dulu. Bahkan, semasa kuliah dulu, hari buku kalah pamor dengan hari Chairil Anwar (28 April). Biasanya hari buku hanya sebagai tempelan dalam acara memperingati hari Chairil Anwar. Itulah kesan saya terhadap peringatan hari buku sedunia.
Bagi saya buku sangat penting, sebab melaui buku kita mendapatkan berbagai macam ilmu atau informasi. Dulu, (Maafkan saya yang terlalu sering memakai kata dulu. Sebab masa-masa buku masih menjadi primadona ya, dulu. Sekarang ini buku telah kalah menarik dengan bacaan digital, bukan pada kontennya melainkan pada alatnya atau medianya.) kriteria orang pintar atau cerdas selalu berbanding lurus dengan frekuensi membaca buku. Semakin sering seseorang terlihat membaca buku maka akan dengan mudah orang tersebut mendapat label 'pintar'. Menurut saya itu masuk akal karena buku adalah satu-satunya sumber ilmu atau informas kala itu. Dengan membaca buku wawasan akan bertambah. Hal itu akan terlihat pada saat seseorang menyampaikan pendapat mengenai suatu hal.
Dulu, saya tidak pernah berpikir tentang desain pendidikan melalui buku. Saya juga tidak pernah berpikir ilmu atau informasi yang diberikan melalui buku yang saya baca (buku paket dari sekolah) digunakan sebagai alat propaganda kekuasaan tertentu atau penguasa, bahkan cuci otak. Yang saya tahu, kata bapak saya dulu, kalau saya mau pintar ya harus rajin membaca buku. Meskipun demikian tidak lantas membuat saya membaca buku lebih rajin lagi. Masa SD, sekira 20 tahun silam, buku yang saya baca bersumber dari buku paket pelajaran sekolah dan buku-buku, juga dari pemerintah, yang tersedia di perpustakaan sekolah. Saya tidak pernah memiliki kebiasaan membeli buku pelajaran lain sebagai tambahan referensi. Jangankan membeli buku referensi lain, untuk membeli Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang kalau tidak salah mengingat seharga Rp. 1.500,- saja orang tua saya sering menyarankan untuk memfotokopi kepunyaan teman saja. Iya, harga buku sejak dulu memang mahal. Dulu saya berpikiran mengapa harga buku mahal padahal jerami dan pohon banyak. Itu terpikir karena menurut buku yang pernah saya baca, bahan baku kertas adalah kayu dan jerami, bertepatan saya tinggal di desa yang bisa saban hari memanjat pohon dan melihat jerami di kandang kerbau atau sapi.
Barulah pada bangku kuliah saya pahami bahwa buku adalah industri yang mengutamakan keuntungan. Yang lebih parah lagi, pendidikan juga kian  menjadi lahan bisnis. Terlebih perbukuan pada masa-masa pergantian tahun ajaran baru. Saya masih ingat ketika SMP dan SMU, setiap tahun terjadi pergantian kurikulum-tiap tahun ganti buku pegangan. Penggantian buku pegangan ini membuat buku yang saya pinjam dari kakak kelas tidak terpakai dalam proses belajar di kelas. Paling mentok buku yang saya pinjam dari kakak kelas hanya sebagai buku referensi lain, itupun kalu muncul niatan saya untuk membacanya. Begitulah pengalaman saya dengan buku semasa sekolah. Tidak ada rangsangan yang membuat saya terpacu untuk membaca (yang ini mungkin hanya pribadi saya saja).
Pengalaman lain dengan buku saya dapatkan di bangku kuliah. Inilah masa keemasan (hahaha masa kememasan kayak kerajaan aja: red) saya membaca buku . Pada masa ini pula saya mau mengorbankan jatah makan hanya untuk membeli buku. Buku telah menjadi, semacam, kebutuhan pokok, yang bila tidak tercukupi akan terasa ada yang kurang. Meskipun harga buku mahal saya terus mengusahakan program pribadi, satu bulan beli satu buku. Untuk mensiasati agar saya tetap bisa makan, frekuensi membeli buku saya tambahi bila ada bazar buku. Perhitungannya begini; harga sebuah buku di toko buku dapat membeli dua atau tiga buku saat bazar, dengan begitu saya bisa menstok buku-beberapa bulan berikutnya tidak membeli buku.
Pada masa ini pengetahuan dan informasi saya ter-'upgrade' dengan cepat. Saya mengenal tokoh-tokoh bukan hanya pokok-pokok pikirannya saja seperti yang tertulis dalam buku sejarah di sekolah dulu melainkan gambaran utuh tokoh-tokoh tersebut. Saya tidak hanya mendapat informasi dari versi penguasa tetapi saya juga memperoleh kesaksian pelaku-pelaku sejarah dan versi penentangnya. Saya mengenal dunia sastra dalam negeri dan luar negeri. Dan seabrek ilmu pengetahuan lainnya (yang sekarang berceceran dari kepala saya hahaha).
Perkembangan teknologi telah memaksa buku harus mampu bersaing dengan dunia digital atau internet. Terutama di kota-kota besar atau kota yang tidak terlalu besar tetapi memiliki lingkungan sekolah dan perkuliahan yang padat. Apa yang tidak ada di internet? Mulai dari hal yang baik sampai hal yang buruk ada di internet. Internet ibarat sumur yang tak akan habis airnya. Cara mengaksesnya pun semakin mudah semenjak ada smartphone walaupun penggunaannya tidak berbanding lurus dengan jumlah orang yang gemar membaca (lain waktu akan saya tuliskan perbedaan membaca buku dengan membaca digital-smartphone. Kalau sempat). Sementara itu, harga buku tetap mahal.Sementara itu, pendidikan masih pelik dengan kurikulum yang sarat kepentingan. Sementara itu, kemiskinan masih meraja. Buku jasamu tiada tara.. eh, itu guru ding...hahahaha Selamat Hari Buku!








No comments: