Bukannya tidak saya sengaja menuliskan judul di atas. Saya sadar benar telah membalik-balik adagium 'Seperti membeli kucing dalam karung'. Ini saya lakukan demi mengikuti logika hidup manusia Indonesia.
Membeli kucing dalam karung sangat mudah diterima dalam logika visual kita. Dan secara harafiah dapat langsung kita peroleh maknanya. Berbeda dengan adagium 'Seperti membeli karung dalam kucing', saya sendiri kesulitan untuk memvisualkan. Logika visual dan kalimatnya susah saya terima-kecuali dengan logika animasi- terlebih lagi maknanya.
Dalam kenyataan sehari-hari adakah orang membeli karung (yang ada di) dalam kucing? Lagi pula, suatu hal yang mustahil seekor kucing menelan karung. Tapi inilah yang terjadi dengan logika hidup manusia Indonesia.
Peristiwa yang terhangat adalah pemilihan legislatif. Faktanya, hanya 10% calon legislatif diisi wajah-wajah baru dan sudah pasti ,nantinya, gedung DPR masih dihuni wajah lama. Partai-partai lama yang sudah ketahuan korupnya masih mendapat suara cukup signifikan. Walaupun golput sementara ini tercatat 34%, toh masih lebih banyak yang nyoblos, menandai masih tinggi tingkat kepercayaan kepada partai.
Para pencoblos (termasuk saya) saya anggap berpikiran positif dalam merespon pileg. Menaruh harapan kepada mereka yang diberi suara agar bisa memperbaiki kinerja sehingga meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, meskipun track record-nya sudah banyak yang terbukti buruk. Inilah yang saya sebut 'Seperti membeli karung dalam kucing', sangat mustahil bila tidak menggunakan logika animasi (kumpulan gambar diam yang digerakkan sehingga seolah-olah bergerak).
Realitanya, logika hidup yang kita pakai adalah tanpa logika. Ini berbeda dengan rahasia kekuatan tanpa batas dalam film Kungfu Panda yang diberikan Master Oogway. Rupanya rahasia kekuatan tanpa batas adalah tidak ada rahasia. Gulungan tanpa tulisan yang ingin dikuasai Tai Lung dapat bermakna mengosongkan pikiran dan percaya kepada kekuatan diri.
Gambaran sederhana logika tanpa logika, yaitu: sudah jelas kinerjanya buruk, sudah jelas partainya korup, tapi tetap dipilih juga. Menginginkan korupsi diberantas dengan melakukan korup juga, bukankah mustahil? Padahal dengan mencoblos orang atau partai yang terbukti korup saja kebenaran atau kenyataan dan harapan sudah kita korup.
Sebentar lagi kita memilih presiden, sudah waktunya kita menciptakan adagium baru bukan membalik-balik adagium lama untuk makna yang lebih hancur..
Membeli kucing dalam karung sangat mudah diterima dalam logika visual kita. Dan secara harafiah dapat langsung kita peroleh maknanya. Berbeda dengan adagium 'Seperti membeli karung dalam kucing', saya sendiri kesulitan untuk memvisualkan. Logika visual dan kalimatnya susah saya terima-kecuali dengan logika animasi- terlebih lagi maknanya.
Dalam kenyataan sehari-hari adakah orang membeli karung (yang ada di) dalam kucing? Lagi pula, suatu hal yang mustahil seekor kucing menelan karung. Tapi inilah yang terjadi dengan logika hidup manusia Indonesia.
Peristiwa yang terhangat adalah pemilihan legislatif. Faktanya, hanya 10% calon legislatif diisi wajah-wajah baru dan sudah pasti ,nantinya, gedung DPR masih dihuni wajah lama. Partai-partai lama yang sudah ketahuan korupnya masih mendapat suara cukup signifikan. Walaupun golput sementara ini tercatat 34%, toh masih lebih banyak yang nyoblos, menandai masih tinggi tingkat kepercayaan kepada partai.
Para pencoblos (termasuk saya) saya anggap berpikiran positif dalam merespon pileg. Menaruh harapan kepada mereka yang diberi suara agar bisa memperbaiki kinerja sehingga meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, meskipun track record-nya sudah banyak yang terbukti buruk. Inilah yang saya sebut 'Seperti membeli karung dalam kucing', sangat mustahil bila tidak menggunakan logika animasi (kumpulan gambar diam yang digerakkan sehingga seolah-olah bergerak).
Realitanya, logika hidup yang kita pakai adalah tanpa logika. Ini berbeda dengan rahasia kekuatan tanpa batas dalam film Kungfu Panda yang diberikan Master Oogway. Rupanya rahasia kekuatan tanpa batas adalah tidak ada rahasia. Gulungan tanpa tulisan yang ingin dikuasai Tai Lung dapat bermakna mengosongkan pikiran dan percaya kepada kekuatan diri.
Gambaran sederhana logika tanpa logika, yaitu: sudah jelas kinerjanya buruk, sudah jelas partainya korup, tapi tetap dipilih juga. Menginginkan korupsi diberantas dengan melakukan korup juga, bukankah mustahil? Padahal dengan mencoblos orang atau partai yang terbukti korup saja kebenaran atau kenyataan dan harapan sudah kita korup.
Sebentar lagi kita memilih presiden, sudah waktunya kita menciptakan adagium baru bukan membalik-balik adagium lama untuk makna yang lebih hancur..
No comments:
Post a Comment