Tak bisa berlama-lama tidur. Tidur pukul sembilan malam dan sebelum ayam berkokok, hari baru sudah aku mulai lagi. Aku duduk di ruang tamu, memandangi foto-foto di dinding, anak-anakku, cucu-cucuku. Dan segelas teh hangat. Begitulah siklus manusia yang telah bergelar kakek. Di manapun tinggal siklus tetap sama.
Demikian dengan siklus hari ini, sebelum ayam berkokok aku telah bangun dan duduk di ruang keluarga, rumah anakku. Pagi tak pernah terlambat datang maka bangunlah seperti kesetian pagi hari, demikian kukatakan pada cucuku ketika dia bertanya mengapa aku selalu bangun pagi.
Lihat, jawaban yang kuberikan, seakan-akan aku ini masih muda, masih membutuhkan kesetian pagi hari untuk menaklukkan dunia.
Dia tak tahu bahwa manusia yang sudah bergelar kakek tak membutuhkan waktu lama untuk tidur. Paling lama lima jam. Dia juga tak tahu, dalam hati seorang kakek menyimpan rasa kuatir yang berlebihan, ini ciri kedua manusia lanjut usia. Kuatir kepada pekerjaan anaknya, bisakah dia melampaui dirinya. Kuatir kepada cucunya, pendidikan dan pertemanannya. Kuatir pada porsi makan. Kuatir pada berita-berita yang dibaca maupun dilihat di tv. kekuatiran-kekuatiran yang tak pernah kuanggap kala muda sebab kemudaan telah mengajarkan tentang berbuat dan menghadapi resiko. Bagiku, itulah resep menaklukkan dunia, setidaknya dunia keseharian.
Aku memperhatikan cucuku telah mengenakan seragam sekolahnya, mengikat tali sepatu, mengambil sarapan dan duduk di meja makan. Demikian rutinitas pagi yang kusaksikan selama aku tinggal di rumah anakku
Aku bertanya- tanya dalam hati di hari pertama melihat cucuku berangkat sekolah tak membawa buku. Dia hanya membawa bekal makan siang ke sekolah. Baru sepulang dari sekolah kutanyakan pertanyaan yang kusimpan dalam hati sejak pagi tadi, kata cucuku, pelajaran di sekolahnya tidak membutuhkan buku. Pelajaran yang menggunakan buku hanya ditahun pertama sekolah. Dia berkata, sepanjang tahun mereka hanya belajar menulis, membaca, dan berhitung. "Kakek tahu? Itu sungguh membosankan." Katanya dengan kerutan di dahi. Setelah itu, semua pelajaran tidak perlu ditulis dan dihafal, hanya perlu dibaca dan diceritakan di dalam kelas.
Ah, mengapa begitu pikirku. Aku belum cukup pikun untuk menginga tas sekolahku penuh buku, baik buku tulis maupun buku paket pengantar pelajaran yang beratnya hampir setengah dari berat badanku.
Segala yang diberikan guru harus dicatat-harus dihafal-padahal yang diberikan itu sama dengan yang ada di buku paket. Setiap hari ada pekerjaan rumah-setiap bulan ada ulangan dari masing-masing mata pelajaran. Dan sekarang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin cucuku sekolah tanpa buku? Tak ada koreksi tentang kerapian tulisan. Tak ada koreksi tentang ketelitian menulis. Tak ada kepuasan memperoleh nilai seratus. Tak ada kenangan dihukum berdiri di kelas karena buku robek akibat terlalu sering menghapus atau karena tidak membuat pekerjaan rumah.
Rasa penasaran mendorongku untuk mengikuti aktifitas cucuku di sekolah. Maka dihari kedua aku berdalih ingin mengantar ke sekolah agar bisa ikut anakku mengantarkan cucuku sekolah.
"Kakek mau menunggu di mana?" Tanya cucuku seturun dari mobil.
"Kakek kan baru kali ini ke sekolahmu, menurut kamu, sebaiknya kakek menunggu di mana?"
"Terserah kakek, sekolah ini bebas untuk kakek." Dia mencium tanganku kemudian pergi ke arah teman-temannya.
Kepala Sekolah! Ya, aku mencari ruangan kepala sekolah. Aku butuh kepala sekolah untuk menghapus penasaran perihal cara belajar cucuku. Aku menoleh ke kanan-kiri, tak ada petunjuk arah yang mengarahkan ke ruangan kepala sekolah
Aku menghentikan perempuan muda yang melintasiku sembari melontarkan senyuman. Barangkali ini salah seorang guru pikirku.
"Maaf, boleh saya bertanya?"
"Oya, Pak, dengan senang hati.." Wajahnya makin menunjukkan keramahan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Bapak mencari siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan kepala sekolah tapi saya tidak menemukan penunjuk arah ke ruangan kepala sekolah."
"Maaf, Pak, di sekolah ini memang tidak ada ruang kepala sekolah?"
"Tapi jabatan itu ada kan, Bu?"
"Ada, Pak. Mejanya satu ruang dengan guru-guru lainnya. Kalau bapak tidak keberatan saya antarkan karena kita satu arah?"
"Oh, jadi ibu ini guru? Tentu, Bu. Saya justru berterimakasih atas bantuannya."
Aku berjalan di sampingnya. Dalam taksiranku usianya tidak lebih dari duapuluh lima tahun. Padanya aku ceritakan tujuanku bertemu kepala sekolah. Tak lama perjalanan kami hingga memasuki sebuah pintu. Ruangan cukup besar dengan meja-meja yang di atasnya terletak papan nama. Tidak ada tumpukan buku atau kertas-kertas seperti meja guruku semasa sekolah dulu. Kubaca sebuah nama, di samping terletak sebuah tanggalan meja, terbaca oleku April 2045.
Demikian dengan siklus hari ini, sebelum ayam berkokok aku telah bangun dan duduk di ruang keluarga, rumah anakku. Pagi tak pernah terlambat datang maka bangunlah seperti kesetian pagi hari, demikian kukatakan pada cucuku ketika dia bertanya mengapa aku selalu bangun pagi.
Lihat, jawaban yang kuberikan, seakan-akan aku ini masih muda, masih membutuhkan kesetian pagi hari untuk menaklukkan dunia.
Dia tak tahu bahwa manusia yang sudah bergelar kakek tak membutuhkan waktu lama untuk tidur. Paling lama lima jam. Dia juga tak tahu, dalam hati seorang kakek menyimpan rasa kuatir yang berlebihan, ini ciri kedua manusia lanjut usia. Kuatir kepada pekerjaan anaknya, bisakah dia melampaui dirinya. Kuatir kepada cucunya, pendidikan dan pertemanannya. Kuatir pada porsi makan. Kuatir pada berita-berita yang dibaca maupun dilihat di tv. kekuatiran-kekuatiran yang tak pernah kuanggap kala muda sebab kemudaan telah mengajarkan tentang berbuat dan menghadapi resiko. Bagiku, itulah resep menaklukkan dunia, setidaknya dunia keseharian.
Aku memperhatikan cucuku telah mengenakan seragam sekolahnya, mengikat tali sepatu, mengambil sarapan dan duduk di meja makan. Demikian rutinitas pagi yang kusaksikan selama aku tinggal di rumah anakku
Aku bertanya- tanya dalam hati di hari pertama melihat cucuku berangkat sekolah tak membawa buku. Dia hanya membawa bekal makan siang ke sekolah. Baru sepulang dari sekolah kutanyakan pertanyaan yang kusimpan dalam hati sejak pagi tadi, kata cucuku, pelajaran di sekolahnya tidak membutuhkan buku. Pelajaran yang menggunakan buku hanya ditahun pertama sekolah. Dia berkata, sepanjang tahun mereka hanya belajar menulis, membaca, dan berhitung. "Kakek tahu? Itu sungguh membosankan." Katanya dengan kerutan di dahi. Setelah itu, semua pelajaran tidak perlu ditulis dan dihafal, hanya perlu dibaca dan diceritakan di dalam kelas.
Ah, mengapa begitu pikirku. Aku belum cukup pikun untuk menginga tas sekolahku penuh buku, baik buku tulis maupun buku paket pengantar pelajaran yang beratnya hampir setengah dari berat badanku.
Segala yang diberikan guru harus dicatat-harus dihafal-padahal yang diberikan itu sama dengan yang ada di buku paket. Setiap hari ada pekerjaan rumah-setiap bulan ada ulangan dari masing-masing mata pelajaran. Dan sekarang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin cucuku sekolah tanpa buku? Tak ada koreksi tentang kerapian tulisan. Tak ada koreksi tentang ketelitian menulis. Tak ada kepuasan memperoleh nilai seratus. Tak ada kenangan dihukum berdiri di kelas karena buku robek akibat terlalu sering menghapus atau karena tidak membuat pekerjaan rumah.
Rasa penasaran mendorongku untuk mengikuti aktifitas cucuku di sekolah. Maka dihari kedua aku berdalih ingin mengantar ke sekolah agar bisa ikut anakku mengantarkan cucuku sekolah.
"Kakek mau menunggu di mana?" Tanya cucuku seturun dari mobil.
"Kakek kan baru kali ini ke sekolahmu, menurut kamu, sebaiknya kakek menunggu di mana?"
"Terserah kakek, sekolah ini bebas untuk kakek." Dia mencium tanganku kemudian pergi ke arah teman-temannya.
Kepala Sekolah! Ya, aku mencari ruangan kepala sekolah. Aku butuh kepala sekolah untuk menghapus penasaran perihal cara belajar cucuku. Aku menoleh ke kanan-kiri, tak ada petunjuk arah yang mengarahkan ke ruangan kepala sekolah
Aku menghentikan perempuan muda yang melintasiku sembari melontarkan senyuman. Barangkali ini salah seorang guru pikirku.
"Maaf, boleh saya bertanya?"
"Oya, Pak, dengan senang hati.." Wajahnya makin menunjukkan keramahan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Bapak mencari siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan kepala sekolah tapi saya tidak menemukan penunjuk arah ke ruangan kepala sekolah."
"Maaf, Pak, di sekolah ini memang tidak ada ruang kepala sekolah?"
"Tapi jabatan itu ada kan, Bu?"
"Ada, Pak. Mejanya satu ruang dengan guru-guru lainnya. Kalau bapak tidak keberatan saya antarkan karena kita satu arah?"
"Oh, jadi ibu ini guru? Tentu, Bu. Saya justru berterimakasih atas bantuannya."
Aku berjalan di sampingnya. Dalam taksiranku usianya tidak lebih dari duapuluh lima tahun. Padanya aku ceritakan tujuanku bertemu kepala sekolah. Tak lama perjalanan kami hingga memasuki sebuah pintu. Ruangan cukup besar dengan meja-meja yang di atasnya terletak papan nama. Tidak ada tumpukan buku atau kertas-kertas seperti meja guruku semasa sekolah dulu. Kubaca sebuah nama, di samping terletak sebuah tanggalan meja, terbaca oleku April 2045.
No comments:
Post a Comment