Ini sudah purnama keseratus duapuluh tujuh aku membawanya ke mana-mana. Siang malam kubawa demi mencari-cari kelopak mata yang kehilangan satu biji matanya. Telah kutatap berlaksa mata. Mulai dari mata yang utuh memiliki sepasang mata sebab barangkali yang sepasang itu sebenarnya bukan pasangannya, diantaranya bisa saja palsu, maka tetap kutatap yang sepasang. Kutatap kelopak mata yang hanya sebiji mata hingga kelopak yang keduanya berongga, tak bermata.
Seratus duapuluh tujuh purnama sudah aku bawa siang malam, sebuah biji mata bulan. Selama itu pula belum ketumukan kelopak yang kehilangan pasangan mata seperti punyaku. Namun aku belum menyerah karena aku percaya, siapa yang mencari dia akan menemukan. Kepercayaan akan menemukan mata bulanku membuatku lebih berani menghadapi hidup.
Aku tanggalkan segala kemanusiaanku sampai di batas kewarasanku agar mata bulanku menemukan pasangannya.Bagiku, adakah yang lebih sempurna di dalam hidup selain menemukan pencariannya? Jika kelak kutemukan kelopak mata bermata bulan akan kusandingkan mata bulanku. Dan, akan kupandangi sepasang mata bulan itu hingga kelopak mataku merapat dengan satu tarikan kata penutup, "Aku sempurna menemukanMu.."
Seratus duapuluh tujuh purnama sudah aku bawa siang malam, sebuah biji mata bulan. Selama itu pula belum ketumukan kelopak yang kehilangan pasangan mata seperti punyaku. Namun aku belum menyerah karena aku percaya, siapa yang mencari dia akan menemukan. Kepercayaan akan menemukan mata bulanku membuatku lebih berani menghadapi hidup.
Aku tanggalkan segala kemanusiaanku sampai di batas kewarasanku agar mata bulanku menemukan pasangannya.Bagiku, adakah yang lebih sempurna di dalam hidup selain menemukan pencariannya? Jika kelak kutemukan kelopak mata bermata bulan akan kusandingkan mata bulanku. Dan, akan kupandangi sepasang mata bulan itu hingga kelopak mataku merapat dengan satu tarikan kata penutup, "Aku sempurna menemukanMu.."
No comments:
Post a Comment