Saturday, 20 July 2013

Letter From My Own Shadows : Catatan “menikah & selingkuh”


12: 46 ; hari ke-12 September 2008

Siang ini aku membongkar-bongkar bungkusan-plastik tepatnya- berisi kaset-kaset jadul. Ada yang dalam satu kotak kaset utuh; maksudku kotak, cover, dan  kasetnya komplit. Ada yang tak berkotak lagi. Ada yang di dalam kotak, tapi gada cover-nya, “ya… aku jadi gatau itu kaset bergenre apaan, atau siapa yang nyanyiin. Ada juga kotak kaset dan cover-nya, tapi gada kasetnya. Ya, begitu-itu nasib barang-barang lama, masih ditambah berdebu, letaknya disebuah sudut bertumpuk dengan barang-barang lama, alias bekas, yang lain.
Aku sungguh tak tahu mencari apa/kaset apa sewaktu mulai membongkar-bongkar plastik itu, dan tidak terbayangkan kaset lama apa yang bakalan membuat telingaku bernostalgia dengannya. Di tanganku kaset ‘The Beatles Revolusi Pop Dunia 1’, kupisahkan kaset itu dari tumpukan lain yang sudah kukeluarkan dari plastik. Ku gali lagi tumpukan kaset dalam plastik Aku terhenyak menyaksikan kaset yang menyita perhatian sudut bulat mataku ‘ God Will Make A Way –The Best of Don Moen’!!!! Aku beku, berhenti dari kegiatanku menggali tumpukan kaset, terserap kaset yang kupegang. Aku tersenyum. Kaset itu belum kuputar di tape, tapi seolah-olah telingaku sedang berdansa dengan lirik dan irama lagu-lagu di dalamnya. “wakakaka…lucu banget sih…” Judul album ini merupakan salah satu judul lagu yang ada di album tersebut yang juga sekaligus ‘backsound’ surat putus dari mantan pacarku semasa SMA, dulu. “oh..no... how angry she was, tergambar jelas dari kata-kata yang ia tuliskan di sirat terakhirnya” Jadi kebayang…(Sebenarnya ingatan ini hanya berlangsung beberapa detik saja, tapi lihat, file-file di kepalaku berkelebatan seperti kelelawar keluar dari gua dan menceritakan kisahku, dulu.) “ Baik banget sih…habis marah-marah, tapi setelahnya doa untuk aku; sebab dibagian akhir surat itu ia tuliskan lirik lagu God Will Make Away + terjemahannya dalam bahasa Indonesia . Cukup! cukup dengan kenangan!!!!
Maaf, jadi keblabasan, yaah…begitulah kenangan; ada dalam ingatan, disenggol dikit aja tumpah deehh…
Lantas aku menggali tumpukan kaset lagi. Sekarang, di tanganku ada tiga kaset ‘Beatles, Don Moen, dan terakhir Queen “At Night At The Opera”.
Menurutmu, kaset mana yang bakalan kuputar duluan??

Hal ini sama dengan waktu merenungkan dua kata ‘menikah & selingkuh’ sebagai pokok persoalannya, kepalaku langsung membuka file-file dari ruang tersembunyi (jangan pernah meremehkan kekuatan ingatan, walaupun ada batasnya) kembali pada ruang waktu pertama kali aku merenungkan dua kata itu. Semester-semester awal kuliah, minimal seminggu sekali aku pulang ke rumah naik bus. Aku seneng banget menikmati naik bus, memperhatikan kecepatan, lalu-lintas, perempuan, laki-laki, anak-anak, setengah baya, tua-muda; semua yang naik turun ke dan dari dalam bus. Suatu saat aku tengah memperhatikan ibu muda menggendong anaknya, baru naik ke dalam bus. Anaknya nangis minta jajan, tapi ibu itu acuh saja ga peduli pada tangisan anaknya. Kuperhatikan ibu itu sedetil-detilnya; baju,cincin,gelang,sepatu,listik,rambut,sandal, dan…”Ga…! Ga bakalan!!!” Aku merinding membayangkan masa depanku, menikah-punya anak!!! Kulemparkan mataku, pandangan yang selalu kutinggalkan di kaca jendela. Kupandang pohon-pohon bertinggalan seolah aku yang terus bergerak maju sedang yang di luar sana hanya diam atau mungkin berjalan mundur. Aku merasa lebih cepat ketimbang awan-awan dari balik kaca bus yang kutumpangi, kami seolah berlomba menuju tujuan entah.
”Oups!! Sorry,  I did it again! lagi dan lagi!!” Cukup berbicara tentang kenangan! Ya, aku memilih untuk cukup pada kenangan.
Ya..hati selalu memiliki berjuta-juta keinginan; entah itu baik atau buruk, tapi untunglah kita punya bagian lain, yaitu ego dan superego sebagai pengontrol. Ego adalah penentuan bagi terwujud atau tidak terwujudnya sebuah keinginan, yang merupakan tuntutan dari id dan superego, dan atau ego itu sendiri -saling berjalin.
Selingkuh boleh jadi merupakan trend bergaul tua-muda masa kini, tapi jika telah merasuki hati dan pikiran seseorang; ini berarti kita sedang membicarakan ranah keinginan –(Apakah aku ingin selingkuh?) yang keputusannya ada di diri kita. Faktor-faktor luar diri; keluarga broken, disakitin makhluk jenis ‘pria’ atau jenis ‘hawa’, lingkungan pergaulannya pada selingkuh, bosen ama pasangan, pingin cari tantangan; yang lebih cocok (cocok duitnya maksudnya kale), hanya merupakan suatu pembenaran dari si selingkuh itu. Keinginan yang muncul akibat dorongan dalam diri maupun luar diri merupakan sebuah pilihan yang akan diwujudkan atau tidak dalam realitas (tindakan). Tidak pernah ada sebuah alasan bagi tindakan selingkuh, karena jika seseorang melakukannya, ini berarti dia telah memilih dan menetukan tindakan yang diperbuatnya itu. Dan, itu pilihan dengan kesadaran. Orang selingkuh lebih mengedepankan pleasure principle, maunya yang enak-enak saja. Dari sini kita dapat melihat sebagian kualitas individu tersebut. Maksudku, dari pilihan dan keputusan yang terwujud dalam tindakan, kita dapat menilik kualitas pribadi seseorang.
Lantas…sekarang kita akan bicara soal menikah;
Tanyakan soal menikah kepada Ibumu;
Tanyakan soal menikah kepada Bapakmu.
Ya…karena dalam pendapatku, mereka jauh lebih mengerti perihal yang satu ini, secara, mereka ‘present continuous tense’ menikah.
Menikah? Apakah pilihan yang buruk?
Punya anak? Jadi Ibu? Apakah pilihan yang buruk?
So…? Apakah tidak lebih baik di dunia ini kita berbagi dengan orang-orang yang memang kita harapkan untuk berbagi? Karena memang tidak sedikit orang-orang yang ga berani memperjuangkan cinta yang ada dalam hatinya. Mereka membiarkan dirinya tersiksa seumur hidupnya dengan menikahi orang yang ia cintai menggunakan pikirannya/rasionalitasnya dan bukan hatinya. Karena yang terbaik bukanlah menunggu untuk diperjuangkan melainkan saling menghidupkan sehingga habis gelap terbitlah terang.

Namun semua berpulang pada diri, bukankah hidup hanya sekali setelah itu berarti mati.

No comments: