12: 46 ;
hari ke-12 September 2008
Siang ini
aku membongkar-bongkar bungkusan-plastik tepatnya- berisi kaset-kaset jadul.
Ada yang dalam satu kotak kaset utuh; maksudku kotak, cover, dan kasetnya
komplit. Ada yang tak berkotak lagi. Ada yang di dalam kotak, tapi gada
cover-nya, “ya… aku jadi gatau itu kaset bergenre apaan, atau siapa yang
nyanyiin. Ada juga kotak kaset dan cover-nya, tapi gada kasetnya. Ya,
begitu-itu nasib barang-barang lama, masih ditambah berdebu, letaknya disebuah
sudut bertumpuk dengan barang-barang lama, alias bekas, yang lain.
Aku sungguh
tak tahu mencari apa/kaset apa sewaktu mulai membongkar-bongkar plastik itu,
dan tidak terbayangkan kaset lama apa yang bakalan membuat telingaku
bernostalgia dengannya. Di tanganku kaset ‘The Beatles Revolusi Pop Dunia 1’,
kupisahkan kaset itu dari tumpukan lain yang sudah kukeluarkan dari plastik. Ku
gali lagi tumpukan kaset dalam plastik Aku terhenyak menyaksikan kaset yang
menyita perhatian sudut bulat mataku ‘ God Will Make A Way –The Best of Don
Moen’!!!! Aku beku, berhenti dari kegiatanku menggali tumpukan kaset, terserap
kaset yang kupegang. Aku tersenyum. Kaset itu belum kuputar di tape, tapi
seolah-olah telingaku sedang berdansa dengan lirik dan irama lagu-lagu di
dalamnya. “wakakaka…lucu banget sih…” Judul album ini merupakan salah satu
judul lagu yang ada di album tersebut yang juga sekaligus ‘backsound’ surat
putus dari mantan pacarku semasa SMA, dulu. “oh..no... how angry she was,
tergambar jelas dari kata-kata yang ia tuliskan di sirat terakhirnya” Jadi kebayang…(Sebenarnya
ingatan ini hanya berlangsung beberapa detik saja, tapi lihat, file-file di
kepalaku berkelebatan seperti kelelawar keluar dari gua dan menceritakan
kisahku, dulu.) “ Baik banget sih…habis marah-marah, tapi setelahnya doa untuk
aku; sebab dibagian akhir surat itu ia tuliskan lirik lagu God Will Make Away +
terjemahannya dalam bahasa Indonesia . Cukup! cukup dengan kenangan!!!!
Maaf, jadi
keblabasan, yaah…begitulah kenangan; ada dalam ingatan, disenggol dikit aja
tumpah deehh…
Lantas aku
menggali tumpukan kaset lagi. Sekarang, di tanganku ada tiga kaset ‘Beatles,
Don Moen, dan terakhir Queen “At Night At The Opera”.
Menurutmu, kaset mana yang bakalan kuputar duluan??
Hal ini sama dengan waktu merenungkan dua kata ‘menikah & selingkuh’ sebagai pokok persoalannya, kepalaku langsung membuka file-file dari ruang tersembunyi (jangan pernah meremehkan kekuatan ingatan, walaupun ada batasnya) kembali pada ruang waktu pertama kali aku merenungkan dua kata itu. Semester-semester awal kuliah, minimal seminggu sekali aku pulang ke rumah naik bus. Aku seneng banget menikmati naik bus, memperhatikan kecepatan, lalu-lintas, perempuan, laki-laki, anak-anak, setengah baya, tua-muda; semua yang naik turun ke dan dari dalam bus. Suatu saat aku tengah memperhatikan ibu muda menggendong anaknya, baru naik ke dalam bus. Anaknya nangis minta jajan, tapi ibu itu acuh saja ga peduli pada tangisan anaknya. Kuperhatikan ibu itu sedetil-detilnya; baju,cincin,gelang,sepatu,listik,rambut,sandal, dan…”Ga…! Ga bakalan!!!” Aku merinding membayangkan masa depanku, menikah-punya anak!!! Kulemparkan mataku, pandangan yang selalu kutinggalkan di kaca jendela. Kupandang pohon-pohon bertinggalan seolah aku yang terus bergerak maju sedang yang di luar sana hanya diam atau mungkin berjalan mundur. Aku merasa lebih cepat ketimbang awan-awan dari balik kaca bus yang kutumpangi, kami seolah berlomba menuju tujuan entah.
Menurutmu, kaset mana yang bakalan kuputar duluan??
Hal ini sama dengan waktu merenungkan dua kata ‘menikah & selingkuh’ sebagai pokok persoalannya, kepalaku langsung membuka file-file dari ruang tersembunyi (jangan pernah meremehkan kekuatan ingatan, walaupun ada batasnya) kembali pada ruang waktu pertama kali aku merenungkan dua kata itu. Semester-semester awal kuliah, minimal seminggu sekali aku pulang ke rumah naik bus. Aku seneng banget menikmati naik bus, memperhatikan kecepatan, lalu-lintas, perempuan, laki-laki, anak-anak, setengah baya, tua-muda; semua yang naik turun ke dan dari dalam bus. Suatu saat aku tengah memperhatikan ibu muda menggendong anaknya, baru naik ke dalam bus. Anaknya nangis minta jajan, tapi ibu itu acuh saja ga peduli pada tangisan anaknya. Kuperhatikan ibu itu sedetil-detilnya; baju,cincin,gelang,sepatu,listik,rambut,sandal, dan…”Ga…! Ga bakalan!!!” Aku merinding membayangkan masa depanku, menikah-punya anak!!! Kulemparkan mataku, pandangan yang selalu kutinggalkan di kaca jendela. Kupandang pohon-pohon bertinggalan seolah aku yang terus bergerak maju sedang yang di luar sana hanya diam atau mungkin berjalan mundur. Aku merasa lebih cepat ketimbang awan-awan dari balik kaca bus yang kutumpangi, kami seolah berlomba menuju tujuan entah.
”Oups!!
Sorry, I did it again! lagi dan lagi!!” Cukup berbicara tentang kenangan!
Ya, aku memilih untuk cukup pada kenangan.
Ya..hati
selalu memiliki berjuta-juta keinginan; entah itu baik atau buruk, tapi
untunglah kita punya bagian lain, yaitu ego dan superego sebagai pengontrol.
Ego adalah penentuan bagi terwujud atau tidak terwujudnya sebuah keinginan,
yang merupakan tuntutan dari id dan superego, dan atau ego itu sendiri -saling
berjalin.
Selingkuh
boleh jadi merupakan trend bergaul tua-muda masa kini, tapi jika telah merasuki
hati dan pikiran seseorang; ini berarti kita sedang membicarakan ranah
keinginan –(Apakah aku ingin selingkuh?) yang keputusannya ada di diri kita.
Faktor-faktor luar diri; keluarga broken,
disakitin makhluk jenis ‘pria’ atau jenis ‘hawa’, lingkungan pergaulannya pada
selingkuh, bosen ama pasangan, pingin cari tantangan; yang lebih cocok (cocok
duitnya maksudnya kale), hanya merupakan suatu pembenaran dari si selingkuh
itu. Keinginan yang muncul akibat dorongan dalam diri maupun luar diri
merupakan sebuah pilihan yang akan diwujudkan atau tidak dalam realitas
(tindakan). Tidak pernah ada sebuah alasan bagi tindakan selingkuh, karena jika
seseorang melakukannya, ini berarti dia telah memilih dan menetukan tindakan
yang diperbuatnya itu. Dan, itu pilihan dengan kesadaran. Orang selingkuh lebih
mengedepankan pleasure principle,
maunya yang enak-enak saja. Dari sini kita dapat melihat sebagian kualitas
individu tersebut. Maksudku, dari pilihan dan keputusan yang terwujud dalam
tindakan, kita dapat menilik kualitas pribadi seseorang.
Lantas…sekarang kita akan bicara soal menikah;
Tanyakan soal menikah kepada Ibumu;
Tanyakan soal menikah kepada Bapakmu.
Ya…karena dalam pendapatku, mereka jauh lebih
mengerti perihal yang satu ini, secara, mereka ‘present continuous tense’
menikah.
Menikah? Apakah pilihan yang buruk?
Punya anak? Jadi Ibu? Apakah pilihan yang
buruk?
So…? Apakah tidak lebih baik di dunia ini kita
berbagi dengan orang-orang yang memang kita harapkan untuk berbagi? Karena
memang tidak sedikit orang-orang yang ga berani memperjuangkan cinta yang ada
dalam hatinya. Mereka membiarkan dirinya tersiksa seumur hidupnya dengan
menikahi orang yang ia cintai menggunakan pikirannya/rasionalitasnya dan bukan
hatinya. Karena yang terbaik bukanlah menunggu untuk diperjuangkan melainkan
saling menghidupkan sehingga habis gelap terbitlah terang.
Namun semua
berpulang pada diri, bukankah hidup hanya sekali setelah itu berarti mati.
No comments:
Post a Comment