Sudah aku masukkan seluruh barang-barang keperluan
bepergian, entah untuk beberapa hari kedepan.
Terpenting bagiku sekarang adalah keluar dari rumah
ini. Aku suntuk. Aku bosan. Aku bingung. Aku entah.
Sehingga sampai detik yang baru saja aku lewati, belum
juga kutemukan arah tujuan pasti bagi kaki yang gatal
melangkah. Sudah terlalu sering aku menghadapi keadaan
ini. Keadaan yang tercipta oleh diriku sendiri.
Perasaan yang bertahun-tahun mengganjal senantiasa
membuat limbung disaat aku harus membuat sebuah
keputusan. Bukan hanya pada perkara-perkara kecil, pun
perkara besar berkaitan masa depan belum aku susun
tentukan. Persis dengan keadaan pagi ini. ”Keluar”
”Kemana?” ”Entah”
Kuurungkan niat bersegera berangkat. Kunyalakan
komputer, mengklik lagu albumnya Erwin Gutawa,
judulnya Andai Kau Datang . Hanya itu
pilihan untuk memanjakan telinga pagi, tepat di hari
lahirnya bangsa ini. Tak ada alasan khusus mengapa
memilih lagu itu. Yang pasti, mendengar dan menikmati
saja sembari menunggu hatiku siap berangkat. Hari
kemerdekaan hahaha... Kupandang poster di dinding kamarku, Soekarno dengan jari telunjuknya bersebelah Hatta dengan kaca mata tebalnya, “Andaikan kau datang kembali jawaban apa yang kan kuberi” Gumamku.
bepergian, entah untuk beberapa hari kedepan.
Terpenting bagiku sekarang adalah keluar dari rumah
ini. Aku suntuk. Aku bosan. Aku bingung. Aku entah.
Sehingga sampai detik yang baru saja aku lewati, belum
juga kutemukan arah tujuan pasti bagi kaki yang gatal
melangkah. Sudah terlalu sering aku menghadapi keadaan
ini. Keadaan yang tercipta oleh diriku sendiri.
Perasaan yang bertahun-tahun mengganjal senantiasa
membuat limbung disaat aku harus membuat sebuah
keputusan. Bukan hanya pada perkara-perkara kecil, pun
perkara besar berkaitan masa depan belum aku susun
tentukan. Persis dengan keadaan pagi ini. ”Keluar”
”Kemana?” ”Entah”
Kuurungkan niat bersegera berangkat. Kunyalakan
komputer, mengklik lagu albumnya Erwin Gutawa,
judulnya Andai Kau Datang . Hanya itu
pilihan untuk memanjakan telinga pagi, tepat di hari
lahirnya bangsa ini. Tak ada alasan khusus mengapa
memilih lagu itu. Yang pasti, mendengar dan menikmati
saja sembari menunggu hatiku siap berangkat. Hari
kemerdekaan hahaha... Kupandang poster di dinding kamarku, Soekarno dengan jari telunjuknya bersebelah Hatta dengan kaca mata tebalnya, “Andaikan kau datang kembali jawaban apa yang kan kuberi” Gumamku.
***
”Mak, aku berangkat.” kucium punggung telapak tangan
mamak yang masih basah oleh air cucian baju-meski
telah dilapkannya kebaju masih kucium bau detergent. Tak kuberi tahu padanya
kemana tujuanku. Ia pun tak menanyakannya. Biasanya,
setelah prosesi kecil sebelum keberangkatan itu , aku
langsung pergi. Tapi pagi ini -pagi ini kakiku berat
melangkah. Hatiku terus berteriak, ” Kau harus bicara!
Kau harus ungkapkan kebenaran hatimu! Kau harus
terbuka!” Bola mata mamak membentur bola mataku. Tak
ada suara tercipta dari benturan itu. Aku ragu, ”
Haruskah kukatakan isi hati ini?” Aku ragu. ”Ah...
Demi kebaikan bersama.” akhirnya kukuatkan diri untuk
mengatakan semua kepada mamak.
”Mak. Aku tahu beberapa hari ini mamak mengambil sikap diam.
Tidak peduli dengan keberadaanku di rumah ini. Jika
ada salahku, aku mita maaf.” Mamak diam.
”Namun begitu mak, hatiku mendengar teriakan-teriakan
hatimu. Kejengkalanmu. Tangisanmu. Dendammu saat kau
memilih mengambil sikap itu. Aku terima pilihan mamak. Itu sepenuhnya hak mamak.” kata-kata itu meluncur licin dari mulutku. Mulut yang selama ini
bungkam. Akupun ragu terhadap mulutku, ternyata lidahku
tak lupa cara berbicara. Mamak diam.
Kalau boleh aku jujur mak. Aku capek menjalani
hidupku. Mamak bilang, ” Umur duapuluh enam, tapi
sifat nggak pernah berubah!” ya, memang aku kini
duapuluh enam tahun, namun duapuluh enam itu serasa
dua ditambah enam. Ya...mamak dan bapak –bapak yang kini pergi, memilih kehidupan baru bersama kekasihnya itu tak pernah memperlakukan aku sesuai
perkembangan kedewasaan umurku. Mamak dan bapak selalu
memperlakukan aku seperti anak-anak. Rumah ini-rumah
ini tidak pernah aku menjadi bagiannya atau sebaliknya
rumah ini tidak pernah menjadi bagian dalam diriku.
Itulah yang tanpa kusadari membuat aku tak pernah
merasa punya hak terhadap rumah ini. Aku tidak
memiliki tanggung jawab membersihkan, menjaga,
memperindah, bahkan rasa rindu rumah tidak terbersit
dihatiku saat pergi meninggalkan rumah. Aku hanya
penumpang. Mamak dan bapaklah pemilknya. Jadi, tolong
jangan terus mamak salahkan sikap penghuni penginapan
ini -aku yang datang dan pergi. Bagaikan danau aku terus mengucapkan
kata-kata yang menyembul dari dasar jiwaku. Inilah
kemurnian yang berasal dari dasar -begitu dingin hawa kebenaran yang menyemburat.
Sementara wajah mamak kini telah memerah dan sedikit
melisut, mempertegaskan kerutan-kerutan usianya. Bola
matanya mulai mengambang. Tapi, tak ada peristiwa ucap
dari bola mata yang mengambang itu. Tak ada niat
menghentikan atau meminta untuk menyelesaikan
kalimat-kalimatku. Hanya diam dan kosong.
Kulanjutkan pembicaraanku. ” Dari segala perlakuan
mamak dan bapak –yang telah pergi itu-psikisku
terganggu, kurasa ini telah berlangsung sejak aku kanak-kanak. Mentalku tak berkembang sehingga meskipun aku selalu mempunyai keinginan-keinginan, aku selalu
takut mewujudkan impian-impian itu. Aku takut kalian
marahi karena tak sesuai harapan yang kalian timpakan bagi hidupku. Tidak ada keberanian. Tidak ada ketegasan. Aku
tumbuh dengan jiwa yang rapuh: bingung dan rendah
diri. Aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri,
apakah semua orang tua di dunia ini bersikap seperti
mamak dan bapak? Tekanan-tekanan yang mamak dan bapak
berikan semakin membuat aku menjadi manusia gembur.
Kalau bapak bilang,”mental kerupuk-mental tempe!” Bapak sangat
benar, jadilah aku manusia kerupuk-manusia tempe-pelengkap lauk
pauk-pelengkap makan siang-pelengkap kehidupan
kalian-memiliki anak. Air mata mamak membludak. Tapi
tak ada peristiwa kata-kata dari membludaknya air mata
itu. Hanya diam dan kosong. Gigi seri bagian atas
menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Tak bisa
kugambarkan seperti apa perasaanku sekarang ini.
Terlalu rumitnya gambaran itu menjadikan kekosongan yang menggembung di dadaku.
Kosong. Mati rasa kepada diriku sendiri. Justru aku
lebih bisa merasakan rasa sakit yang ditimbulkan gigi
terhadap bibir mamak. Tiba-tiba aku teringat dua buah perintah.
'Hormatilah orang tuamu.'
'Jangan membunuh.'
” Apa dengan menghormati orang tua, kejujuran lantas
digencet atau dibuang jauh-jauh? Menerima segala perilaku orang tua tanpa memberikan featback hasil pemberiannya itu? Apakah kejujuran termasuk kejahatan, setara membunuh? Trus, di mana letak dan kapan tepatnya kejujuran itu harus dikeluarkan? Oh...tidak!
Tidak! Aku tak mau membuat mamak menangis kosong. Ia
sudah terlalu penat dengan biaya kehidupan keluarga
sepeninggalan bapak. Ia mamakku, harus kuhormati. Aku
tak harus mengatakannya pada mamak. Hanya akan
menyakiti hatinya, itu berarti aku akan membunuhnya
secara perlahan-lahan dalam kekosongan. Jika hal ini
sampai terjadi mamakku akan menjadi mayat hidup. Lapar tapi
tak lapar. Haus tapi tak haus. Menangis tapi tak
menangis. Tidur tapi tak tidur. Hidup tapi tak hidup.
Tidak! Dia mamakku. Satu atau seribu membunuh adalah membunuh.
Segera aku matikan komputer, menyambar tas ransel,
keluar kamar menuju dapur. Aku cium punggung telapak
tangan kanan mamak. ”Mak, aku berangkat; Semarang.”
Mamak diam. Matanya tidak tertuju padaku. Kemudian aku
jalan meninggalkannya, ”Apa ini kemerdekaan itu?" Daun-daun berguguran, angin semilir, dan orang-orang meninggalkan rumahnya –kampung halamannya. Dari kaca bus kulihat sebuah lapangan penuh orang-orang yang sedang menghormat kain merah putih, barangkali untuk kesekian kali sepanjang umurnya. Aku hanya bungkam dan diam melihat kaca yang mulai kabur karena hembusan nafasku. Segalanya kian kabur tapi diriku telah penuh oh…Indonesia Merdeka, Mamakku enampuluh dua tahun sudah bukan enam ditambah dua.
17 Agustus 2007
No comments:
Post a Comment